Lalu sebelum bulan memudar, aku ingin bercerita kepadamu kisah tentang perpisahan. Setiap muka-muka yang kita pandangi, ada suatu ketika kita terpaksa melihati punggungnya. Sesedikitnya kepulangan lalu sebanyak-banyaknya kepergian, perpisahan akan terus membuntuti setiap pertemuan. Apabila mengenang adalah repih-repih angan yang  engkau simpan di bilik-bilik hati, lantas mengingat adalah cara yang paling mudah bagi engkau  untuk merindukan.

Lalu sebelum malam terbenam, aku benci menutup mata lalu membungkusmu dalam mimpi. Karena sewaktu aku terjaga, engkau adalah sekuncup bunga mimpi yang telah layu. Aku terpaksa menyiramimu dengan air mata, berharap engkau mekar seperti sediakala.

Lalu sebelum fajar hinggap, aku ingin mengatakan kepadamu perihal ketulusan. Sulit bagiku menirukan edelweiss, yang hidup sendiri di puncak gunung  yang tandus, dengan tulusnya memberikan cuma-cuma keindahan tanpa engkau pelihara.

Dear, The only one thing you should know, ” all i do, is sincerely for you.”

Lalu

Tagged , , ,

2 thoughts on “Lalu

  1. ayu says:

    tumbuhlah seperti edelweiss..tanpa keraguan untuk menjalani hidupnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: