Ironi jatuh cinta


Kabut senja bergumul menyelimuti bukit-bukit yang memunggungi langit sedari siang tadi. Surya yang enggan bangun dari peraduan, bermalas-malasan sambil mengusap botak kepalanya yang tak sekemilau dahulu. Seharusnya Tuhan memecatnya menjadi pusat tata surya, jika selalu terlambat memberi kemilaunya pada bumi dan semestanya. Mungkin beberapa ribu tahun cahaya lagi, matahari undur diri dari perjalanan waktu, karena aku tahu dia sedang sekarat, dia sudah kehabisan serbuk cahaya.

Begitu monolog yang kubacakan kepada siluetku yang berbaring di sepanjang kaki, di balik awannya angan, di balik atmosfer imajiner. Hari ini hari ke sebelas, sejuta detik semenjak aku mengagumimu, sama hitung dengan senja yang Tuhan warnai merah lembayung di langit timur. Orang-orang gunung sedang sakit mata, karena Tuhan lupa mematikan senter di ufuk barat. Kemudian sampai sekarang, hanya engkau yang belum lelah berlarian dalam pikiran.

Ini adalah awal monolog:
Masih terlalu dini untuk mengatakan “jatuh cinta” kepada seseorang yang baru saja engkau temui. Kepada klise yang pilih kasih antara siapa yang mencintai? Dan siapa yang dicintai, daripada itu segala-galanya merunut kepada sinopsis romeo dan Juliet yang terlalu basi, rama dan shinta yang terlalu kolosal, atau balada sinetron yang membosankan dan alurnya bertele-tele. Begitu bukan?
Mungkin, Terlalu banyak kata untuk menggambarkan dirimu yang abstrak, seseorang yang terlalu acak dan susah ditebak. Labirin yang tak pernah ada jalan keluarnya. Hampir mustahil mengambil beberapa kata-kata indah dari selarik ode dan setumpuk puisi dari ruang baca yang penuh adegan dari Shakespeare. Lalu aku ingin bunuh diri karena kebingungan merangkai beberapa diksi untuk mendeskripsikan portraitmu yang terlalu buram, tertutup kelambu hitam, tertutup dinding introvert yang engkau bangun tinggi-tinggi.
Tapi entah mengapa, setiap kali kita bertatap muka, seperti ada jeda waktu jutaan tahun cahaya yang melengkung ke dalam bola matamu yang hitam yang bermuara di lubuk hatimu yang paling dalam. Hasratku ingin sekali terjun ke dalam matamu, dan terkubur selama-lamanya disitu. Aku hanya tak ingin gagal membaca isyarat hati yang sengaja engkau sandikan, sebelum engkau memberiku petunjuk tentang apa bentuk hatimu sewaktu gelap. Apakah itu merah jambu untukku? ataukah hanya sebatas abu-abu, seperti yang tampak ketika engkau membakar kayu.

Ini adalah akhir monolog:
Hanya aku, nebula yang mengambang di sekelilingmu, Jupiter. Hanya aku, seorang pengagum dari tempat yang jauh, andromeda.

Hanya aku, beberapa bait sajak ini untuk menyatakan betapa ironisnya diriku menyukaimu.

Tagged , , ,

4 thoughts on “Ironi jatuh cinta

  1. Radite says:

    Akhirnya nulis lagi🙂,bagus mas tulisannya,always😀

  2. Radite says:

    Semoga yg dikerjakan segera selesai,jadi bisa nulis lagi,trus terbit deh.
    Aamin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: