Tentang rasa bersyukur


Senja seakan enggan menguning. Langit masih tampak muram sehabis badai semalam, cakrawala sembab menghitam di pinggir kelopaknya karena terlalu banyak menangis. Sore ini, angin pun hanya bisu ketika biasanya dia membisikkan padaku perihal kerinduan. Semenjak pilar-pilar matahari terselip di setubuhnya awan, aku terduduk di bangku-bangku yang berjajar setengah lingkaran di samping perpustakaan. Bangku-bangku itu berteras-teras ke bawah seperti bangku colloseum, terlihat riuh ramai diduduki sepi. Kita tak sedang menonton pertunjukkan gladiator, kita sedang menonton isi kepala yang tumpah-tumpah karena kebingungan.

Lalu sampai sore ini, kaki-kakiku masih rapat, sedang punggungku mati rasa. Demi daun baling-baling yang melayang-layang, berputar sebentar, di sekelilingku berjatuhan. Beberapa mengenai wajahku, dan seakan aku bisa mendengar mereka mengumpat, mengejeki postulat newton, “Gravitasi hanya mitos! aku punya mimpi, aku terbang dengan mimpiku. Kasihan kamu budak gravitasi, meloncat pun tak terlalu tinggi”. Lalu suara-suara itu berpendar ketika mereka berceceran, aku menendang-nendang daun-daun yang sombong itu. Semalam hujan di sana-sini, sekarang di mataku. Walaupun aku coba untuk tak mengedip beberapa menit, tak satu tetes pun air mata keluar. Tapi kesedihan terlanjur menggambari mataku dengan merah, kemudian aku tak kuasa lagi menahan kelopak mata yang tiba-tiba jadi seberat bulan. “Bukan aku yang menangis tapi mataku hanya banjir, seharusnya aku belajar menangis ketika hujan”, teriakku di dalam hati.

Betapa hari ini, aku merasa sendiri. Orang-orang terlalu sibuk berperan, orang-orang terlalu sering memakai topengnya untuk bersandiwara. Sedang aku terjebak klise yang tak kuingini, tentang bagaimana merunduk di bayang-bayang dunia yang terlalu sempurna. Aku terlalu silau akan dunia, dengan segala kesempurnaannya. Lalu apa jadinya jika kuteruskan untuk terjaga, hanya buta nanti yang kutemui. Mataku seakan tak sudi memandang segala ketidakadilan ini. Untuk apa dibuat sempurna, lalu mengorbankan mereka yang cacat. Untuk apa? untuk dikasihani? supaya pahala-pahala itu menjadi surga? Untuk apa?.

Seakan tak mau jujur dengan diriku sendiri, aku tak mengingini hidup seperti ini. Ada bagian dari diriku yang sangat aku benci, yaitu ketika aku mulai bersombong dengan hanya sedikit kebanggaan, ketika aku lemah dan mengutuk-utuk Tuhan karena tidak adil, ketika aku melembut karena dunia ini sesungguhnya sekasar permukaan bulan. Lalu aku mengelus-elus dada, sambil berguman “Hei, Jangan berniat untuk tidak bersyukur, karena memang tak ada sesuatu alasan pun bagi kita untuk tidak bersyukur”. Nikmat Tuhan terlalu banyak, dan kita serakah kepada Tuhan. Serakah. tak pernah puas, tak mau ikhlas. Serakah. bahkan mengucap syukur dan terima kasih pun, bibirmu seperti dijahit tamak.

Terima kasih untuk hari ini, esok dan seterusnya. Kepada Tuhan, kami panjatkan.

Tagged , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: