Ayah


Siang itu, terik membakar di ubun-ubun, mendidih seisi kepala. Pikiranku memunah musnah, matahari merana bara dipelupuk mata. Aku masih menyusuri padang tandus ini, tanahnya merah merekah, retak di tengah-tengah, hancur membongkah di pinggirannya. Kata orang sepadang tanah itu dikutuk Tuhan, tak satupun mau tinggal di tempat gersang itu. Padang itu kering kerontang, tapi diriku basah dijilat keringat. Debu di tiup angin, di dahi di mata membutakan. Semak liar setinggi pinggang yang mencoba menjeratku supaya jatuh, batu-batu kecil menggelincirkan pijakan supaya lelah.

Aku masih akan berjalan, tekadku sebulat purnama. Entah arah berpihak kepadaku atau tidak saat ini, yang jelas ada semacam tanda panah diatas kepalaku yang siap membimbing kemanapun aku pergi, mereka menunjuk-nunjuk ke depan seperti ingatan. Ironisnya, satu-satunya arahku adalah utara, jauh di seberang jejeran pegunungan gundul di depan mata. Engkau bertinggal di lereng gunung itu, disitulah rumahmu berada. Aku seburuk-buruk pencari jalan, karena aku tak membawa apapun kecuali kompas yang hanya menunjuk ke arah utara. Kompasku adalah rumahmu sekarang, tempat separuh kenangan kutinggalkan. Utara, arah berpijak terus berjalan, kemudian pandangan lurus ke depan.

Dari jauh gubukmu layaknya tenggelam di tengah padang gersang, udara gurun yang menguapkan fatamorgana. Pandangan yang menjadi semu, seperti banjir di sekeliling tapi nyata-nyata kering. Di sela-sela atap rumahmu, asap putih menyembul. Gubukmu seperti kapal api berbentuk rumah yang berlayar di atas lautan pasir, tapi tak pernah bergerak, dan hanya menambat jangkar. Aku lega tidak tersesat, asap putih yang mengebul itu penanda benar jalanku. Setiap pijakan kaki, setiap jejak langkah yang tersingkap, aku terus berarak menuju masa lalu ditemani dejavu, juga kenangan masa lalu. Dulu, aku pernah singgah disini.

Gubuk kecilmu beratap rumbia dengan jendela yang selalu terbuka. Pohon oak yang kering daunnya, meranggas disapu angin kemarau, ayunan kecil yang talinya putus sebelah. Pelataran rumahmu dulu penuh bougenvil dan mawar, sekarang menjadi belantara semak dan rumput liar. Engkau tinggal sendiri, di gubuk reyot itu. Istrimu meninggalkanmu sepuluh tahun yang lalu. Bukan meninggalkan karena minggat, bukan. Istrimu meninggalkan karena meninggal. Entah, engkau tak banyak bicara apalagi bercerita kepadaku tentang istri tersayangmu. Engkau menyerahkan semuanya kepada takdir, tak lantas menyesali, tak pantas larut dalam kesedihan. Semua sudah digariskan, istrimu sudah undur diri dari perjalanan waktu. Engkau hanya diam menyendiri satu dasawarsa ini, seperti menunggu sesuatu. Bukan menunggu istrimu yang tiada, sesuatu yang lebih menyerupai maut supaya segera datang. Supaya kesendirian tak lagi mencekam, supaya bosan tak lagi menikam.

Masa tua itu waktu penyesalan, ketika semua yang kamu harapkan tak sesuai kenyataan, ketika semua yang kamu sayang tiba-tiba hilang, ditelan waktu satu demi satu. Ketika cita-cita dan angan-angan hanyalah sebagai gantungan, hanya menggantung di kening tak dapat terlaksana, karena kamu tak sempat memenuhinya. Malaikat maut seperti tamu kehormatan bagimu. Aku tak heran jika engkau selalu berpakaian bagus disetiap akan tidur, mandi dengan sabun wangi, memakai perfum dari pandan yang direndam semalaman. Berharap engkau dijemput sudah berpakaian nyaman, tubuh yang bersih dan wangi. Engkau tahu, Akhirat tidak meyediakan pakaian dan tempat ganti, di akhirat tidak ada mall apalagi kamar mandi.

Kembali ke monologku. 5 tahun yang lalu, seperti 5 menit sekarang. Di pelataran gubukmu, masa lalu tiba-tiba menyesaki pikiran, menggenang memenuhi rongga kenangan. Dulu aku bertinggal di balik gunung, di sebuah kota kecil. Aku hidup di kota berempat musim. Ketika musim semi merenda jala-jala langit dengan warna biru. Padang gundul di lereng gunung itu ditumbuhi semak yang menghijau, dandelion merajut padang itu berwarna-warni seperti sajadah yang tergelar panjang tak berujung. Aku sering berlarian di halaman belakang, menginjak-injak rumput sesuka hati. Padang rumput yang mengingatkanku pada sajadah ayah, yang masih wangi bersih sejak 2 tahun di beli, sajadah yang dipakai ayah setahun dua kali, itupun saat salat idul fitri juga hari raya kurban.

Di ujung padang rumput, tumbuh pohon oak tua, pohon yang seumuran kakek buyutku jika beliau masih hidup sekarang, beberapa dasawarsa mungkin. Setelah capai berlarian, aku sering tertidur tak sengaja di bawah pohon oak itu. Kemudian angin bergantian mengelus-elus wajah, rontokan daun kering terhempas angin dari ranting yang kering, sibuk menutupi badan. Aku masih ingat bau bunga bersemi, rusa liar yang berpasang-pasang, bau petrichor sehabis hujan. Tak ada yang lebih manis dari gula madu, selain mengecap indahnya kisah masa lalu.

Sejauh padang yang serentangan tangan, tapi entah beribu langkah ku jengkal. Bayanganku sudah lenyap, matahari tepat di atas kepala. Siang hari yang bolong, kakiku menginjak pelataran rumah. Sejenak merebahkan badan di atas undakan batu yang tersusun ke atas gubukmu, mengeja nafas yang terengah-engah. Kemudian mengumpulkan keberanian untuk mengetuk daun pintumu.

Tok.. tok. Tangan kiri seakan mendorong, tangan kanan sedang mengetuk. Wajahku menempel di sela-sela pintu, mengintip apa yang ada didalamnya.

“Ayah, aku pulang”, ucapku lirih.

“Ayah, engkau di dalam kan?”, sedikit berteriak.

“Ayah..”, lirihku meluruh.

Aku tertegun didepan pintu, bungkam memaksaku menelan ludah. Hanya hening yang membungkus angin ribut di balik gunung, berdengung seperti nyamuk. Salamku sia-sia, hilang terbawa sunyinya tepian gunung. Ramai sekali tempat ini, seriuh pemakaman, tak sekalipun suara yang terkerucut dalam indera pendengaran. Hanya jangkrik yang mengkerik bangun kesiangan, semacam membalas salam yang kuucapkan kepada daun pintu, juga si tuan rumah. Ketika aku hendak beranjak pergi, saat itu daun telingaku terjentik suara berderik daun pintu yang terbuka. Engsel yang karatan bercampur suara batuk-batuk seorang renta. Suaranya parau dirampas usia.

“Ummi, engkaukah itu..?”, sahut seorang tua.

“Ummi, engkau sudah pulang”, tiba-tiba berteriak, menyeruak pintu.

Aku tertegun melihatnya. Aku nyaris tak mengenalinya. Seperempat abad terlalu lama mengubahnya menjadi orang yang tak kukenal. Butuh sejenak untuk menyadarkanku beliau adalah ayahku.

“Ayah!”, sahutku menyambutnya.

“Ummi, ummi”, balasmu penuh ratapan.

“Aku anakmu.. Anakmu yang dulu tak sempat kau.. ” , bicara lirih.

“Siapa kau! siapa yang sudi kemari! Engkau bukan istriku, Aku tak punya anak. Pergi kau dari hadapanku, aku tak sudi berbicara dengan orang asing. Mereka menganggapku sudah gila, Begitu juga kau! Pergi! “, Hardiknya penuh amarah. Pintunya dibanting ke arah dalam, kemudian dikuncinya rapat-rapat.

Aku hanya diam, tercengang. “Ayah.. Aku.. ” , ucapku lirih sambil membenturkan kepala ke daun pintunya.

Dinding hatiku seperti runtuh mendengar penolakannya. Gemuruh badai di balik gunung meraung-raung, ikut meremukannya menjadi kecewa. Aku masih di depan pintu, menggaruk-garuk dindingnya, berharap terbuka. Aku diam membeku di depan, sambil membalik badan. Sambil mengusap semua peluh, membuang asaku jauh-jauh.

***

Bersambung ke bagian II

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: