Espresso


Secangkir espresso ini terasa pahit sekali. Aku sesap sedikit di ujung lidah, mencari-cari manis yang terselip di sela-sela ampas yang berbuih di bibir cangkir, tapi hanya pahit yang terkecap di pangkalnya. Cafe ini seperti yang pernah kusinggahi sebelumnya, neon yang menguning, gubuk jerami di tengah sawah, lilin kecil beraroma lavender, juga alunan musik bossa jazz yang mendayu-dayu. Semuanya terlihat sama, tapi tidak dihadapanku. Hanya parasmu yang nihil di pandangan, dan kemudian kosong menduduki kursi yang kupesankan untukmu.

Sebulan ini aku rutin mengunjungi café ini, setiap senja sampai penghujung malam. Duduk di meja yang sama, meja yang selalu kita pesan. Jarak café dan perpustakaan tempat aku bekerja tidak terlalu jauh, jadi aku putuskan untuk bersepeda. Jikalau biasanya aku memboncengkanmu, sekarang aku bersepeda sendiri. Aku selalu terburu-buru setiap sore ini, walaupun tak ada seorang pun di café yang duduk lama di meja, menghabiskan bercangkir-cangkir cappuccino, lalu bermuka cemberut karena terlalu lama menunggu. Aku benci menunggu, aku benci membuat orang menunggu, Begitu juga denganmu.

Jika aku pulang lebih awal,  terkadang aku membawa bunga yang kubeli di toko bunga di sebelah perpustakaan kota. Lavender, aku selalu ingat bunga yang kamu suka. Wanginya hampir sama seperti lilin beraroma yang ada di café favorit kita. Rupanya, toko bunga itu juga menjual lilin-lilin yang persis sama dengan lilin-lilin di café, mungkin orang café juga membelinya disitu. Aku juga masih ingat, Perfume yang kamu pakai wangi lavender, baju yang kamu pakai selalu ungu sewarna dengan lavender, sepasang crocs ungu lavender yang membungkus kedua kaki mungilmu. Kamu dan ungu itu seperti saudara kembar, sampai-sampai tiba-tiba aku menjadi buta warna setiap dekat denganmu. Tak mampu membedakan antara kamu, ungu juga lavender.

Bunga itu aku letakkan di vas, di atas meja yang kita pesan. Aku buang lavender bekas kemarin yang sudah layu, kemudian aku isi vas dengan air mineral yang sengaja aku bawa, supaya terlihat segar seperti sedia kala. Kemudian, bergegas aku memesan kopi di meja kasir, barista di café ini tampaknya sudah hafal mukaku juga apa yang aku pesan. Tinggal melambaikan tangan dan menelunjuk ke langit tinggi-tinggi, lalu tiba-tiba saja sudah tersaji espresso panas di atas meja, lengkap dengan gula sachet rendah kalori. Sambil menghantarkan pesananku, tak lupa menyungging senyum kepadaku, iya, kepada pelanggan setia mereka. “Selamat datang, mas!”

Malam ini hujan, seperti malam-malam biasa di bulan November. Payungku tertinggal di perpustakaan, terpaksa aku menunggu sampai hujan reda. Aku pesan lagi secangkir espresso untuk menemaniku melamun. Aku keluarkan buku dan pena yang selalu ada di dalam tas, kemanapun aku pergi. Aku menulis sebait puisi untuk diriku, untuk mengobati kepiluanku.

“Ada waktu di kala hujan yang memaksa kita untuk menunggu, untuk menghitung bulir-bulir rindu. Mengenang segenang kenangan, memuja manisnya pengandaian”.

Lalu tiba-tiba air membanjiri mataku, memaksaku mengedip untuk membendungnya. Berkali-kali ku menahan air mata ini tak keluar lagi, tapi kelopak mataku tak pernah kuat membendung kesedihanku yang meluber menjadi tangis. Hari ini, malam ini, terakhir kali aku bertemu denganmu sayang. Terakhir kalinya aku memegang kedua tangan mungilmu, terakhir kali aku memeluk dirimu lebih erat dari biasanya, terakhir kali aku melihat matamu yang sebiru langit dan sedalam samudera. Tapi bukan malam terakhir untuk menunggumu. Setidaknya setelah kamu meninggalkanku untuk cintanya yang tak seberapa.

Benar, aku hanya punya secuil hatimu, sebongkah besarnya milik dia yang kamu cinta. “Aku datang, engkau sang pulang. Aku memeluk, engkau berpunggung”. Ketika itu Tenggorokanmu berai dipenggal kelu. Bungkam menjahit bibir lembutmu, tutur ditawan bisu. Wajahmu nihil, hanya punggung. Saat mengucap kata “pisah”. Hanya satu kalimat yang kamu katakan padaku,” Sampai besok sayang”, kemudian bibirmu mengembang. Tapi kamu tak pernah kembali. Tak datang lagi.

Hei, sayang, jika engkau bisa mendengarku di dalam hati. Espresso ini masih tetap akan pahit. Tapi penantianku pasti berujung manis.

Tagged , , , ,

3 thoughts on “Espresso

  1. Radite says:

    Bagus banget mas,semoga cepet dibuku in ya mas.
    Biar bisa masuk tas & ada di rak buku ku,🙂

    • Dear radite,

      Seneng banget kamu baca tulisan-tulisan saya di blog. Cuma bisa janji, jikalau buku saya benar-benar terbit, kamu yang pertama dapet, for free.

      Terima kasih radite🙂

  2. Radite says:

    Iya mas,tulisan nya mas tuh aku tunggu.
    Aku jadiin bookmark di browser hp ku,biar langsung menuju ke blog ini,
    asik,kalo nggak gratis,aku yang beli pertamaaa.
    Amin,semoga segera terbit dan segera ada di rak buku ku.
    Semangat mas,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: