Pisah


Senja masih semburat di langit, menyesaki rongga matamu yang kian memerah. Ketika malam menjala-jala langit dengan hitam, langit menjadi suram, parasmu berganti muram. Kala itu mendung betah bertengger di kelopak matamu, hidungmu kembang kerut menahan nafas yang menyesak. Sesenggukan, mengeja nafas yang tersengal-sengal di penggal pilu. Di sudut kursi taman, kita duduk mengutuk gelap. Tenggelam dalam hening. Aku diam, engkau bungkam. Sudah habis kata-kata yang kuberikan untukmu, begitu juga denganmu.

“Aku harus mengatakan ini kepadamu”, ujarku memecah kebungkaman.

“Katakanlah, bahkan jika hanya sebait. Aku bosan menguntal bungkam seperti ini. Jelaskan kepadaku “, jawabmu penuh haru.

“Kita harus berpisah, sayang. Kembalikan sebelah hatiku yang kutitipkan kepadamu.”

“Tetapi engkau belum menjelaskan apa-apa, aku tak mengerti.” ucapmu lirih setengah berteriak.

“Tak ada yang perlu dijelaskan, kembalilah bersama dia yang kamu cinta, sayang. Aku hanya punya secuil hatimu, sebongkah besarnya milik orang lain. Aku hanya punya satu cinta untuk satu hati. Untukmu. Kepadamu. Pisahlah, aku yang bodoh terlalu banyak mengoleskan sayang di belahan hati kita. Terlalu rekat, susah kupisahkan. Biar aku yang menanggung sakitnya.”,

“Aku cinta kamu, sayang “, ucapku untuk terakhir kali.

Air matamu membanjir lagi. Aku membuang muka, tak tega melihatmu menangis. Melepas ikatan, membuang angan, membunuh kenangan. “Selamat tinggal sayang”.

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: