Bermain Tuhan di alam mimpi dan delusi


Ini bukan cerita untuk bertaruh percaya, ya cuma sisa percakapan empat mata semalam dengan bayangan di cermin, monolog tolol yang ditulis melalui terawangan pikiran yang milimentil, hanya buah pikiran beberapa menit bercumbu dengan kalbu di kamar mandi saat buang air besar tadi pagi. OK, Jangan terlalu dipikirkan, apalagi dibaca serius. Ini bukan potongan gulungan laut mati, bukan alkitab yang ditolak gereja, bukan surah tersembunyi dalam Quran. Ini cuma cerita yang egois dan terlalu subyektif, ditulis idioma dengan bahasa idiotique. Ironisnya memang aku menulisnya dengan mata masih berselimut kelopak, angan masih melayang-layang di awang-awang mimpi. Tadi pagi, aku susah bangun. Mungkin juga setan kamar menindih tubuhku, supaya menyelesaikan semacam ilham entah darimana, pantas saja seperti beku di tempat tidur. Mulutku seperti dibekap, untung saja aku masih bisa berteriak keras dalam hati, menyampaikan semacam wahyu illahi, atau bisikan setan lewat tulisan ini. I don’t know! Ora mudeng!, Keep calm, aku ngga bakal memproklamirkan diri sebagai mesias dan nabi baru di jaman jahiliyah modern ini. Suatu cara yang menyedihkan, membawa-bawa nama firman Tuhan untuk mempopulerkan diri, kecuali orang-orang yang berpusar ganda. “Mbuh, jaman edan iki, jaman edan”, Tulis ranggawarsita dalam babatnya yang entah ku lupa namanya.

Jadi semuanya berawal dari “Dahulu kala”, kalimat andalan para tukang cerita untuk mengawali plot waktu di suatu tulisan. Dulu kala, ketika semuanya masih buram, tak sesuatu apapun, dunia masih berselimut ketiadaan. Tiba-tiba Tuhan dengan rencana maha besarnya, “Proyek membuat dunia”, dalam tujuh hari, seminggu lamanya. (hari sabtu sabat, Tuhan libur istirahat). Kaboom, Kunfayakun, jadi maka jadilah, tak perlu mengucap mantra, tak perlu memikirkan apa-apa, tiba-tiba woosssh jadi semua. Semacam retoris kalau tanya, Bagaimana sesuatu itu ada yang mula-mula dari tidak ada? Apakah Tuhan tak perlu komposisi, bahan baku atau apapun untuk mencipta dunia? OK, super retoris, tak perlu dijawab. Mimpi malam ini aku bermain sebagai Tuhan, aku menjelma menjadi Sang Pencipta, punya dunia ciptaan sendiri, punya gembala (manusia) juga untuk dipiara, ya semacam domba-domba buat mengurusi masalah dunia tanpa lupa akheratnya.

Sebagai Tuhan di delusi dan alam mimpi, jelas aku bisa berlaku semena-mena, “sewenang-wenang isi otak”. Ya, aku bukan Tuhan yang ditulis-tulis di dalam Alkitab atau firman-firman lain, yang terlalu Maha dan sempurna. Aku sendiri menyadari tidak sempurnanya saya sebagai tuhan yang orang-orang sembah di alam mimpi, lagipula yang menyembahku ya cuma makluk delusional dari alam-alam mimpi. Tentu, aku punya sisi buruk dan baik, malaikat tercipta untuk sisi baikku, dan sebaliknya bagian buruk sebagai setan yang menggoda. Kemudian karena terlalu bosan dengan mereka, aku mulai merancang-rancang manusia. Adam sebagai prototype manusia pertama. Sebagai Tuhan yang baik, aku menciptakan tempat bernaung di akhirat sebelum aku mencipta adam. Pertama kali membuat surga, dengan bermodalkan secuil sense of beauty juga sedikit mencontek surga-surga yang diceritakan di kitab-kitab. Jadilah surga yang indah dan layak huni lengkap dengan tanah luas tak berujung, rumah yang ribuan kali lebih indah dari istana babylonia miliknya alexander agung, pepohonan  pendek dengan buah-buahan lebat, sungai-sungai besar yang dialiri susu dan khamr.

Nah, dulu aku bingung harus buat manusia dari apa? karena bumi belum terbentuk kala itu, tentunya tanah pun belum ada. Aku ambil saja berbongkah-bongkah tanah liat di delta sungai di surga, kemudian membentuknya seperti manusia dengan dua tangan, dua kaki, dua mata, dua lubang hidung, dua telinga, dua testosteron, dua ovarium (jika itu wanita). Kemudian aku berikan akal di kepala, nafsu di perut, syahwat di kemaluan, nurani di hati. Kemudian ditaburi sedikit bubuk waktu ke tubuh manusia yang aku bentuk tadi, untuk batas kadaluwarsa juga supaya manusia tak abadi seperti Tuhannya. Manusia tanpa usia namanya cuma “man”, bukan manusia lagi. Aku menyedot sebagian rohku, kemudian aku sembulkan ke dalam isi tubuh yang kosong. Jadilah Adam, prototype manusia pertama di dunia (dunia mimpi dan delusi). Begitu cara aku sebagai Tuhan membuat semacam manusia, kalau ada kritik tentang cara membuat manusia, tolong sampaikan kepada saya dengan cara berdoa lewat mimpi. Tolong, Sekali lagi cukup dibaca aja ya,  jangan di praktikan, nanti saya dikira menyebar ajaran sesat lagi. Duh!

***

Hari pertama, Perdana jadi Tuhan. Semuanya biasa saja, karena memang belum ada apa-apa. Dunia saat itu terlalu gelap, makanya aku menciptakan terang. Untung aku punya kantong ajaib di tengah jubahku, aku ambil beberapa matahari dari saku tengah yang mirip saku punya doraemon, kemudian disusun rapih berjejer sebagai galaksi. Karena aku orangnya perfeksionis, sedikit cocok dengan sifat alamiah tuhan yang semuanya harus sempurna. Pokoknya semua yang aku ciptakan harus matching dan rapih, makanya aku sebar bintang-bintang di sepanjang galaksi urut memutar seperti spiral. Perfeksionis juga tidak identik dengan rapi lho, contohnya sekarang bintang yang disebar tadi berceceran seperti susu tumpah gegara aku menebar bintang sambil melamun. “Konon, galaksi itu nanti bakal dinamai “Milky way” oleh manusia,” Gumanku sambil nulis istilah “milky way” ke book of destiny. O ya, Tuhan seharusnya tidak melamun.

The next day, aku mulai merasa excited sebagai Tuhan baru. Setting waktu di alam mimpi itu fleksibel dan bisa berubah sesukanya, tapi bukan akunya yang tidur dua hari. Ini tetap di mimpi yang sama, mimpi pada suatu malam. Setelah kemarin malam, aku menabur milyaran bintang di laboratorium raksasa, laboratorium angkasa raya. Ternyata ada beberapa bintang yang aku letakkan terlalu dekat, kemudian mereka bertubrukkan dan menyebabkan beberapa ledakan dahsyat. Sedangkan aku merasakan ledakan itu cuma bunyi petasan kecil yang aku jumpai waktu perayaan imlek di kuil sam po kong (di luar konteks mimpi). Ya, akibatnya ada beberapa bintang, maksudku berjuta-juta bintang yang hancur berkeping-keping membentuk serpihan kecil seperti debu dan kerikil. Manusia buatanku nanti menamainya dengan nama asteroid, kemudian serpihan-serpihan bekas tubrukan tadi itu memilin bersatu membentuk suatu asteroid lebih besar akibat pengaruh gravitasi dari bintang lain yang lebih dekat. Asteroid-asteroid bergabung menjadi planet yang kemudian mengorbit di daerah gravitasi bintang lain yang lebih dekat. Para cendekia menyebutnya “Teori Bintang Kembar”, dan banyak teori lain dari hasil hipotesis umat manusia. Ya begitu lah, manusia cuma bisa meramal-ramal tanpa bukti jelas, padahal yang buat sebenarnya juga Tuhan. Kenapa tak ditanyakan langsung kepada Sang Pencipta? kenapa mereka begitu malas bertanya kepada Tuhan? atau bertanya dengan Agama? Tuhan berbicara kan dengan ciptaannya atau..

“Dear diary”, ketika aku menulis di sebuah buku setebal tujuh lapisan langit. Buku diary Tuhan ini sudah lama tak terpakai, ya aku kan Tuhan, memoriku terlalu senggang menyimpan hingga berjuta tera byte file mulai dari awal penciptaan dunia sampai nanti bagaimana dunia harus berakhir. Aku fikir Tuhan tak menulis buku diary yang gambarnya hello kitty, karena kapasitas ingatannya super besar dan nihil dari error dan lupa. Tapi hari ini, hari sabat, hari khusus istirahat bagiku. Bagaimana tidak capek membuat dunia seangkasa raya dengan deadline seminggu, sedangkan membuat proposal skripsi sehari hanya dapat separagraf, Ohh menn. Hari ini aku akan bersantai, bersandar di bulan, menikmati hujan meteor dibalik bima sakti sambil menulis diary.

Sabtu, hari entahlah, bulan tak tahulah, tahun terserah.

Dear Diary,

Wah, sudah tujuh hari tujuh malam diriku terjaga. Akhirnya rampung juga Mega Project yang aku rancang-rancang dari dulu. Yaa, hari ini hari sabtu, aku ingin beristirahat saja. Bersandar di bulan, menikmati hujan meteor di balik eta carinae, dan nebula yang menari-nari di sekeliling jupiter. Hari ini, aku mengunjungi surga. Prototype manusiaku sudah rampung, ya sesuai yang aku inginkan. Tapi yang membuatku bersedih melihatnya tampak murung sendirian di surga. Si Adam tinggal sendirian di tempat seluas itu, aduh. Aku lupa membuatkannya pasangan yang seharusnya sejak dulu kubuat. Tapi aku kehabisan lempung di delta sungai surga, terlalu banyak yang aku pakai untuk proyek manusia ini, sisanya kulempar ke bumi supaya jadi daratan, supaya benih yang kusebar bisa tumbuh dan bersemai. Soal proyek manusia ini, aku bahkan memakai bahan-bahan lain yang ada saat itu. Pernah memakai cahaya, tetapi malah jadinya malaikat yang terlalu sempurna. Pernah juga memakai nyala api, tapi jadinya setan yang buruk rupa. Oh, bingung.

Tapi entah darimana ide ini berasal, seolah tiba-tiba saja aku mengetahuinya. Waktu itu Adam sedang tertidur, kemudian aku mengambil sebuah rusuk sebelah kirinya. Aku senang sekali ketika bahan itu bisa digunakan untuk membuat sejenis manusia lain. Tak lama, tiba-tiba sudah muncul saja sejenis manusia lain, tapi dia berbeda. Dia itu cantik jelita, dengan rambutnya yang bergerai panjang, lemah gemulai, dan ada dua buah kelenjar mamae di sebidang dadanya. Wah, aku namakan dia Hawa, dan dia seorang wanita. Esok harinya, ketika adam masih tertidur, diam-diam aku letakkan Hawa direntangan pelukannya. Ketika dia terbangun menemukan sepasang bola mata yang berbinar seperti seribu matahari, rambutnya laksana beribu sungai di surga yang diikat menjadi satu, terpancar bahagia di parasnya. Aku ikut senang, manusiaku sudah punya jodohnya sekarang.

Layaknya orang yang mau mengontrak atau ngekos, sebagai pemilik surga. Aku sudah katakan kepada mereka, aturan yang harus mereka turuti selama masih numpang di surga. Aku juga katakan kepada malaikat dan setan yang ikutan numpang, yah mereka cuma mengangguk-ngangguk entah mengerti atau tidak.Ini bukan soal jam malam, tempat parkir yang harus rapi, atau tunggakan listrik dan air bulanan. Bukan, bukan! aku cuma melarang mereka memakan satu jenis buah, buah khuldi. Segala jenis buah, tapi jangan buah khuldi.

Hari ini aku marah besar, jenggotku terbakar mendengar berita tak baik dari surga. Adam hawa, khuldi, mereka memakan buah itu. Aku memergokinya. Geram aku mendengarnya, langsung saja aku usir mereka untuk turun ke bumi. Bertelanjang, tanpa pakaian, hanya sehelai daun yang aku berikan untuk menutupi kemaluan mereka. Aku pisahkan mereka sejauh setengah lingkar bumi, biar tahu rasa pikirku.

LDR ternyata sudah ada sejak dulu kala, adam hawa menjadi yang manusia pertama yang LDR sejauh setengah diameter planet. Aku bukan sekejam jarak yang memisahkan, aku hanya ingin mereka tahu kesalahan mereka hingga harus diusir dari surga. Aku cuma ingin mengajari mereka rasa sabar. Ya, walaupun dipisahkan sejauh apapun kalau yang namanya jodoh ya tetap berjodoh. Berjalan mencari kesana kemari, untung daratan belum aku pisah-pisah, jadi tak perlu pusing memikirkan gimana caranya nyebrang lautan. Ya dulu daratan masih jadi satu benua, benua pangea. Bahagia itu ketika sabar mereka terbayar dengan pertemuan, aku juga ikut bahagia. Inilah asal muasal pepatah “Jodoh harus menunggu”. Mereka kemudian mempunyai anak keturunan yang nantinya jadi cikal bakal peradaban. Sang Pencipta ikut berbahagia.

Ya begitulah, apalagi yang harus kutulis. Isi penaku sudah habis, aku harus mengambil tinta lagi di lubang hitam. Itu tempat aku menyimpan sepalung tinta ketika aku membutuhkan untuk menulis. OK, see ya, jika aku masih ingat harus menulis diary lagi.

Kecup basah dari Tuhan :*, God Bless You.

Kamu tahu lah, Tuhan punya kewenangan hukum yang tak terbatas, hukum akhirat dan hukum dunia (masih di dunia mimpi dan delusi). Obyek hukumnya ya manusia yang percaya eksistensinya, dengan asumsi orang yang “percaya” dan taat artinya orang tersebut sudah mengikat hukum yang diberikan Tuhan kan? Ya aku anggap begitu. Bagaimana mereka orang-orang yang tidak percaya? atau mereka yang ragu-ragu? Entahlah, aku kurang tahu. Tapi sebagai orang percaya, aku yakin mereka masih di bawah Jurisdiksi wilayah hukum Tuhan, hanya belum diberikan pencerahan. Dosa masih berlaku sesuai pelanggaran yang dibuat, diskon dosa sesuai syarat dan ketentuan berlaku. Semua orang mesti tunduk kepada hukum tuhan, karena melanggar akan dikenakan dosa, karena yang taat bakal dihadiahi pahala. Ya, and so on, aku malas memberi nasehat, nanti aku dikatakan tuhan mimpi yang sok bijak..

Byurrrr… tiba-tiba semuanya banjir seisi galaksi. Lengkingan keras yang mirip teriakan ibukku menggema seisi jagad. Dan tiba-tiba semuanya terang, terbangun dalam suasana basah dengan omelan ibu pagi-pagi. Oh, what a wonderful life! aku masih di dunia nyata, aku masih waras. Bergegas aku ke kamar mandi, sudah 3 hari aku tak mandi. Dan aku telat kuliah lagi..

The End.

Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: