Jika Cinta Dapat Menanti


Derik roda dan rel kereta beradu, bergaduh melengking tinggi menggema seisi kepala. Telingaku mendengking, dihujami suara yang sepintas menyerupai susan boyle yang sedang bernyanyi seriosa dengan nada cressendo yang bertumpuk-tumpuk.
‘Ah bisingnya. Lama-lama berkerak juga kupingku kalau seperti ini terus,’ batinku.

Kaki-kaki lima menghentak-hentak lantai stasiun, Mereka mengeroyoki penumpang. Meneriakan dagangannya, yang malah terdengar seperti memaki para penumpang dengan kata-kata akua, mizon, tahuuuuuu. Suara parau kaki-kaki lima yang ikut bernyanyi mengiringi susan boyle di emperan stasiun. Bel stasiun, peluit masinis, bunyi cerobong asap di depan lokomotif tua saling bersahut, bersimfoni sebagai chamber orchestranya. Stasiun tiba-tiba menjadi gedung pertunjukkan dadakan, sayang tanpa dirigen simfoninya berantakan.

Keadaan stasiun yang lama-lama membikin aku muak, ‘aku harus cepat-cepat beranjak masuk kereta, aku harus mencari tempat duduk yang nyaman’ batinku lagi.
Penumpang baru saja turun, tapi aku mendesak masuk. Badanku tersangkut arus penghijrah yang hengkang ke arah pintu keluar, tapi pikiranku sudah mendahului tiba di sudut kanan bangku kereta yang kosong. Perfect, meja kecil dan dekat dengan jendela! lagi-lagi membatin, entah berapa monolog yang kubatin selain umpatan, itupun jika mereka dihitung sebagai monolog. Sesampainya di bangku, cepat-cepat merebahkan diri, tengkurap sepanjang kursi. Mengeliat seperti cacing kepanasan,

“Njirrrr, PANAAAASSS, Shiiiiiiitt,” aku mengumpat keras-keras sambil membekap mulut ke punggung kursi kereta. Peduli apa, terserah jika dipanggil orang gila. Untung orang-orang sekelilingku terlalu sibuk menumpuk barang-barangnya, Umpatanku jadi tak terdengar, hilang ditelan keramaian.

Bergegas aku duduk, menyumbat kedua telingaku dengan alunan lagu dari pemutar musik jadul bermerk buah apel digigit sebelah. Ipod jadul yang selalu kubawa kemana-mana, sebuah alat supaya terhidar dari omong kosong orang-orang. Terima kasih kepada steve job telah berjasa membuat ipod, I must say ini penemuan penting umat manusia setelah roda, entah berapa kuping yang stress berkerak gegara simfoni berantakan ala stasiun jika nggak ada alat ini, Appreciate!.

Hanya beberapa menit, seluruh bangku kereta sudah penuh terisi penumpang. Tapi tidak di depan bangkuku, hanya kosong. Peluit masinis melengking tinggi, bel stasiun dibunyikan lagi, asap hitam. mengepul terlihat disela-sela jendela. Kereta siap berangkat. Aku memandang keluar, ada seseorang yang berlari-lari kecil. Mungkin dia penumpang, dan tampaknya dia sedikit terlambat tadi, untung keretanya belum terlalu cepat, dan pintu kereta masih dibuka. Dia bergegas naik ke gerbong terdekat yang dicapainya, kebetulan gerbongku. Dia duduk di depanku, wajahnya berpeluh keringat, mengeja nafasnya yang terengah-engah. Aku menatapnya. Gadis manis. Pandangku yang sedari tadi abu-abu, tiba-tiba diselimuti warna-warna yang indah melukis wajah cantiknya. Aku terdiam sejenak, menelan peristaltik di kerongkonganku. Jantungku berpacu dengan laju kereta, semakin lama berdetak semakin cepat. Hatiku berdebar tak biasa, pupilku membesar terfokus kepadanya. Mataku mencari-cari wajahnya, bibirnya yang mungil, hidungnya yang mancung, kemudian tiba-tiba terhenti di matanya. Mataku dan matanya bertemu dalam sebuah pandang. Aku menatapnya, dia juga menatapiku. Matanya jernih, biru secerah langit, sedalam palung samudera. Beberapa detik kita saling pandang, mencoba mengenali satu sama lain. Aku terkagum-kagum. Aku terpesona kepadanya.

Tiba-tiba dia tersenyum sinis sambil berucap kepadaku, membuyarkan lamunan.
“Apa lihat-lihat, belum pernah lihat orang ketinggalan kereta ya?” ucapnya sinis.
“Ah, enggak,” balasku sambil membuang muka, aduh aku terlalu malu untuk menatap wajahnya.

Aku mencuri pandang lagi. Kemudian dia tertawa kecil, giginya mungil seputih awan. Tersimpul senyum di wajah manisnya, melengkung ke kiri dan kekanan, bermuara ke lekuk pipi. Dia membalas semua rasa maluku dengan senyum. Senyum sempurna, setengah purnama.
Aku berusaha keras menahan kata-kataku yang tertelan kerongkongan, mencoba tidak memuntahkannya ke dalam sebuah percakapan. Tapi semuanya sia-sia, rasa kagum mendorong semua ucap yang terpenjara di bibir, mengujar berupa sapa perkenalan. ‘Aku harus mengucap sesuatu,’ batinku.

“Hei, a a aku dika,” ujarku terbata-bata. Dia tersenyum lagi, aku membuang muka (lagi).
“Hei dika, aku bila. Ehm, nabila! Salam kenal,” balasnya antusias. Dia menyodorkan tangan kanannya, mencoba menyalamiku. Aku mengulurkan tangan, kami bersalaman. Hanya sekedip mata, sehembus nafas. Tapi rasanya lama sekali. Aku tidak rela melepas tangannya.

“Senang berkenalan denganmu,” ujarnya setengah berteriak. Suaranya mengagetkanku, sambil melepaskan tangannya dari genggamanku.
“Iya, aku juga,” jawabku lirih masih malu-malu.
Kami saling pandang lagi, entah berapa lama. Di dalam kereta yang melaju, kami bercakap-cakap membicarakan semuanya. Kami sepasang penumpang kereta yang baru kenal saja, tapi bagiku seperti mengenalnya seperti kawan lama. ‘Aku berhasil mencuri senyummu, manis. Aku berhasil membuatmu salah tingkah,’ gumanku. Diam-diam aku menaruh rasa suka kepadanya, dalam waktu singkat ini, dalam kereta ekonomi.

Sampai pada akhirnya kereta yang ku tumpangi berhenti di salah satu stasiun. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Segurat senyuman terhias indah lewat bibir mungilnya itu, sesaat sebelum ia pergi.
“Aku duluan ya,” ujarnya kemudian. Aku yang sedari tadi terkagum-kagum menatapnya, rasanya enggan untuk melepasnya pergi begitu saja. Aku masih ingin berlama-lama dengannya. ‘Ah, kenapa waktu cepet banget sih!’ Batinku mengeluh.
“Ah, iya. Hati-hati” tapi pada nyatanya hanya kata-kata itu yang bisa terlontarkan dari mulutku.

Gadis itupun berlalu, mataku masih tak ingin lepas memandanginya hingga sosoknya tertelan oleh ramainya penumpang siang itu. Inikah rasanya cinta pada pandangan pertama? Belum pernah aku merasakan debaran seperti ini sebelumnya. Apalagi pada orang yang pertama kali ku kenal. ‘Ini gila!’ Batinku.
Rasanya aku seperti terhipnotis. Sosoknya yang begitu indah membuat otakku tidak karuan. Sepanjang laju kereta, bayangannya menari-nari dipikiranku. ‘Ini benar-benar gila! Ah, kenapa tadi tidak ku pinta saja nomor handphonenya,’ umpatku kesal setelah menyadari bahwa tadi aku hanya bercakap-cakap tanpa menanyakan berapa nomor telepon genggamnya itu. Betapa bodohnya aku ini. Lalu kalau sudah begini aku mesti bagaimana? Sempat otakku berpikir untuk turun di stasiun berikutnya, lalu kembali ke tempat dimana gadis itu turun dan menyusulnya sebelum aku mengingat bahwa hari ini aku harus menyerahkan revisian skripsi pada dosen pembimbingku.
‘Oh shit!, malang banget sih nih hidup, Sekalinya suka sama orang eh cuma bisa ketemu sekali doang’ ya, lagi-lagi aku membatin.

Ya sudahlah, mungkin memang belum berjodoh. Eh, aku mengharapkan bisa berjodoh dengan gadis itu? Ya Tuhan… Sepertinya aku memang sudah terhipnotis! Di otakku sekarang hanya terbesit bagaimana caranya aku bisa bertemu dia lagi dan bisa mengenalnya lebih jauh lagi. Otakku terus berpikir dan berpikir, rasanya seperti mau pecah. Memikirkan gadis itu ternyata lebih rumit di bandingkan dengan revisian skripsiku ini. Semakin aku berpikir, semakin tak kutemukan caranya, ini aneh. Sangat aneh.

‘Ah! Aku tau, kenapa tidak aku tunggu saja di stasiun yang sama, kayaknya dia sering naik kereta ini juga deh.’ Batinku kembali berujar. Ya, akan ku tunggu dia pada waktu yang sama. Mungkin ini terdengar sedikit gila, tapi apa salahnya aku mencoba. Aku ingin bertemu dia lagi, harus!

****

Hari ini aku sengaja datang ke stasiun lebih awal. Ku harap aku bisa melihat senyuman gadis itu, tak apa meski sebentar. Aku akan menggunakan waktuku sebaik mungkin. Aku menunggunya di tempat duduk dekat pintu kereta kala pertama kali aku bertemu dengannya, dengan harapan dia akan muncul lagi lewat pintu itu. Sejam, dua jam, tak ada tanda-tanda dia memasuki stasiun. ‘Ini sudah lewat dari jadwal kemarin, apa dia tidak datang ya’ gumamku. Aku tetap menunggunya, hari sudah hampir sore, aku tetap tak menemukannya. Ku putuskan pulang saja. ‘Mungkin memang dia tidak datang hari ini’ pikirku.

Esoknya aku kembali menunggu, semoga Tuhan berbaik hati padaku hari ini. Aku ingin bertemu gadis itu! Sekarang!
Aku menunggunya lebih lama. Ku tunggui hingga siang berganti petang. Ah dia tak kunjung datang pula. Aku frustasi. Rasanya dua hari ini aku seperti orang bodoh. Menunggu sesuatu yang jelas-jelas amat sangat tidak jelas, ribet ya bahasanya? Yasudahlah biar, aku memang sedang mumet. Lebih baik aku pulang. Tak ada gunanya juga aku disini, menantikan gadis yang tak jelas darimana asal usulnya. Lebih baik aku lupakan.

Tapi semakin aku lupakan, semakin tumbuh rasa gelisahku. Menyesakkan setiap sudut hatiku. Sebulan, dua bulan, waktu berlalu begitu cepat. Gadis manis yang ku temui di kereta itu tak pernah menampakkan sosoknya lagi. Ya, dia persis seperti hantu. Hilang di telan bumi. Tapi hebatnya, aku masih mengingatnya dengan jelas.

***
Siang itu matahari terlalu nyentrik, terlalu bersemangat membakar kulit-kulit manusia yang sedang di kejar-kejar waktu, aku salah satunya. Sepanjang jalan menuju gerbong kereta aku mengumpat dan mengeluh saja. Aku muak setiap kali bertemu dosen bimbingan harus menggunakan kereta ekonomi ini. Ku layangkan pandanganku, mencari bangku yang masih kosong. ‘Ah, itu dia’ gumamku setelah menemukan satu bangku tersisa di paling depan. Segera ku menempatinya. Aku tidak memperhatikan sekitarku. Aku terlalu sibuk mengeluhkan mengapa hari ini kereta amat sangat panas. Sampai ketika seorang gadis di hadapanku membuka kacamatanya. Jantungku serasa berhenti berdetak. ‘Ya Tuhan!’ Teriakku dalam hati. Gadis itu balik menatapku, tatapan sinisnya berganti menjadi tatapan yang meneduhkan.
“Kamu kan…” Tutur gadis itu kemudian, lalu secepat kilat, bak hujan yang meyegarkan tanah gersang, dia tersenyum padaku.
“Apa kabar?” Dia, gadis manis yang ku temui dulu, aku bertemu lagi dengannya. Dia masih mengingatku! Tuhan mengabulkan doaku, penantianku tidak sia-sia. Ah, terimakasih Tuhan!

***
Ditulis oleh @deus_amoris dan @ekapusp dalam event #AWeekofCollaboration
Selamat membaca! True love waits!

Posted from WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: