Tengok ke atas, langitnya biru


Hari ini, fajar bangun terlalu pagi. Subuh menerobos antrian, dan berangkat terlalu awal. Beranda rumah membiru menyambut kedatangannya, halaman rumah berkerling tersiram cahaya. Nampaknya peri embun tidak lupa mengoles embun di ujung daun. Hari ini cerah sekali, Langit tak berawan, pandangan menembus angkasa, birunya menghujam muka bumi.

Entah denganmu, tapi ketika aku melihat langit!. Subhanallah, Takjub ketika menyebut namaMu di sela-sela kagumku melihat langit yang begitu indah pagi ini. Aku selalu tahu, Tuhan itu pelukis naturalis. Satu sapuan kuas kasat mata, kemudian muncul hamparan lukisan yang berjuta-juta kali lebih indah dari monalisa yang sedang tersenyum. Picasso pasti iri, apalagi affandi dengan lukisan tukang becaknya yang tak jelas rupanya, tapi tetap disebut indah, entahlah. Seni itu rumit, art is abstract! apalagi cinta! Ya kan?. Ayo, Siapa yang sanggup melukis langit? Tunjuk tangan! Eh, angkat tangannya! Butuh berapa ember cat warna ya? Atau kira-kira seberapa besar kuasnya ya?. Lagi lagi, Subhanallah, Tuhan itu pelukis naturalis. Langit sebagai kanvasnya, semesta galeri seninya. Of course, kita semua pengagum karya seniNya. Begitu kan?.

Aku selalu suka melihat langit ketika cerah, mengharu biru rasanya. Blue, just like deep ocean and clear sky. I love blue, I love this morning, and i”m gonna love this day🙂 . Aku harap kamu juga secerah langit pagi ini, karena aku juga pasti akan menyukaimu, karena itu aku tak akan bosan memandangimu.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: