Bilamana Senja


Kepada Senja,

Aku menamaimu senja, jeda antara gulita dan terang cahaya. Demi engkau, malam datang. Demi dirimu, siang berpulang. Demi siang dan malam yang merindukan pertemuan, dan teruntuk senja yang menyukai perpisahan. Ketika tirai langit ini engkau tutup, waktu itu terang dihujani gelap. Langit merah merekah, matahari jatuh merebah. Langit biruku, awan putihku diusir sekawanan hitam. Kemudian, bintang-bintang kerlip bertebaran, pungguk bulan disangga langit malam. Ketika Manakala, Bilamana pada suatu senja.

Senja, engkau adalah waktu ketika rinduku menjadi pilu. Engkau sebait bisu, bungkam dalam lamunanku. Ketika ucap tak tertutur, sebab hatiku hancur. Ketika kenangan menggenang sedang, sebab separuh hatiku hilang. Seketika itu aku tenggelam dalam manis kenangan, dulu engkau mempertemukan kami dalam sepenggal jeda. Sejenak masa, ketika kuucap cinta. Secuil waktu ketika hati kami bersatu. Telunjuk jemari melekat erat sepanjang malam, tatap muka mata saling berpandang. Merentang mesra, sepanjang senja. Pelukku lebih erat dari genggam tangannya, ketika itu aku mencium bibirnya. Manis sekali. Seketika , semuanya membeku dilambat waktu, Hati kami bersatu dibawah rentangan jedamu. Ketika engkau merapat dalam sebuah jeda, Bilamana pada suatu senja.

Senja, engkau sebaik-baik pencerita. Kisah cinta kami selalu tersimpan dalam jedamu. Kau selalu bercerita tentang manisnya kisah kasih, begitu juga pahitnya perpisahan. Rentang jedamu bercerita tentang cara kami bertemu, pun cara kami berpisah. Cinta kami sesingkat rentangmu, sejenak menghampir kemudian mengakhir. Cinta kami dangkal. Hanya selutut kemudian surut, hanya menggenang teruapkan hilang. Tapi hati kami begitu merekat, begitu sakit terkelupas, begitu susah kupisah. Kemudian luka tertoreh di masing-masing sebelah hati kami, aku mengembalikan hati sebelahnya. Begitu juga dengannya mengembalikan hati sebelahku. Air matanya tak terbendung, wanitaku menangis dengan senyum. Begitu pula aku, aku hanya menegapkan dada, merentang pelukan pada sebuah perpisahan. Kita membungkam, merana. Bilamana pada suatu senja.

Senja, kata-kataku tak akan putus menuturkanmu. Tintaku tak akan pernah habis, akan selalu ada tempat pada bukuku untuk menuliskanmu. Mataku tak akan pernah kering untuk menangisimu, senyum yang selalu ku singkap menyambut datangmu. Seperti yang aku bilang, engkau itu sebaik-baik pencerita. Tetaplah datang bercerita, Aku akan berikan acuhku, supaya aku tetap mengingat manakala lalu, ketika pertemuan dan perpisahan terlukis dalam bait kenangan. Ketika cinta bersemi sepanjang ingatan. Tetaplah Kenangku pada suatu masa, Bilamana pada suatu senja.

Lampung, 2 Februari 2013
Dari @deus_amoris

Posted from WordPress for BlackBerry.

4 thoughts on “Bilamana Senja

  1. Radite says:

    Bahasanya agak berat,tapi tetep bagus.
    Dan kayanya ini edisi galau ya .)

  2. Masya says:

    suka bangett🙂

  3. trims masya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: