Bahagia yang Sederhana


Kepada Lukman,

IMG00100-20130118-1848Teruntuk lukman. Ketika aku menuliskan surat ini, aku sedang dalam kabin pesawat. Ini penerbangan pertamaku setelah hampir empat tahun aku tak menaiki burung baja ini. Jujur aku sedikit takut kali ini, sudah lama aku tak berada di ketinggian. Sore ini aku beranjak pergi dari kota “pantas”, Yogyakarta. Terbang menuju kota seberang pulau, tempat gajah way kambas, kota bandar lampung. Ini pertama kalinnya aku meninggalkan tanah lahirku, menyeberang tanah perantauan. Aku akan berkerja disana. Tenang, aku hanya akan tinggal selama sebulan saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, aku akan kembali lagi bulan depan. Nanti aku akan berkunjung ke sekolahmu lagi, dan kita bisa bermain lagi, melakukan apapun yang menyenangkan bersama-sama lagi.

Kawan, aku baru mengenalmu seminggu yang lalu. Ketika itu, aku diajak oleh sahabatku untuk berkunjung ke sekolah sekaligus tempat tinggalmu. Sekolah Luar Biasa Sutawijaya, tempatku pertama kali mengenalmu. Aku antusias menerima ajakan itu, langsung saja kuiyakan tanpa berfikirku dua kali. Dari dulu, aku ingin sekali ke sekolahmu. Aku ingin tahu seperti apa kalian, anak-anak langit yang dari dulu keperjuangkan. Aku masih ragu seluas apa hatiku, ingin mengukurnya lagi dan membandingkannya dengan hati kalian, anak-anak langit. Semoga, hatiku masih cukup lapang untuk menaruh securah peduli ini kepada kalian. Aku sempat cemas waktu itu, aku takut kalian tidak bisa menerimaku, sebaliknya aku takut diriku tak bisa menerima perbedaan yang ada pada kalian. Begitu juga denganmu, lukman.

Hei, lukman. Pertama kali aku bertemu denganmu, ketika itu aku bersama teman-teman sukarelawan bemaksud berkunjung ke sekolahmu. Hari sabtu pagi, sehari seusai ujian akhir. Kami, sengaja menyempatkan datang. Kami ingin bermain, bersenang-senang bersama melepaskan belenggu penat dari leher setelah hampir dua minggu menelan soal-soal ujian yang memusingkan itu. Hari itu kami mengajak kalian berkebun di halaman samping sekolahmu. Kami membawa beberapa benih tanaman buah dan sayuran. Pagi itu, begitu sampai kami langsung disambut dengan wajah-wajah ceria di depan gerbang sekolah. Mereka berlarian mengejar kami sampai ke parkiran, berebut tangan kami untuk bersalaman. Saat itu, aku baru pertama kali berkunjung ke sekolahmu. Sekolahmu agak jauh dari tempat kami tinggal, pelosok di sebuah desa kecil di kaki bukit. Hawanya sejuk dan dingin. Udaranya bersih, rerimbunan pohon menghijau sejauh mata memandang.Warga desa ramah, murah senyum. Setiap persimpangan ada saja yang melempar sapa, kami hanya membalas dengan senyum. Terang saja, kalian betah tinggal di lingkungan ini.

Waktu itu ketika kami sedang asyik berkebun di halaman samping sekolah bersama teman-temanmu, anak-anak ajaib juga. Tiba-tiba kamu datang menghampiri kami dengan sedikit malu-malu. Jalanmu meminggir-minggir dengan wajah tertunduk. Berjalan mengikuti bayanganmu sendiri yang kebetulan mengarah ke arah kami, entah kamu memang mengejar bayanganmu atau memang kamu bermaksud bertemu sapa dengan kami. Kamu menyambut ramah dengan senyuman, engkau masih tertunduk. Nampaknya masih berusaha mengenali satu per satu dari kami. Kami tetap ramah, teman-temanmu menertawaimu karena malu-malu. Kami ikut tersenyum sambil menggoda-goda, berharap muncul sekembang tawa di bibirmu. Akhirnya kamu tertawa, kita tertawa bersama-sama. Entah kita menertawai apa, tak penting! Yang penting tertawa, yang penting tersenyum. Senyum itu tanda bahagia.

Aku iri kepadamu, man. Iri dengan keingintahuanmu yang begitu besar.Ketika itu tiba-tiba kamu tertarik kepada satu benda bernama “kamera”. Kamu meminta kami mengajarimu cara menggunakannya. Tak perlu waktu lama untukmu menguasainya, padahal kamu baru saja tahu benda tersebut kamera itu. Kamu benar-benar cerdas , lukman! kamu cepat belajar. Aku ingat kamu suka memfoto orang, apalagi orang yang sedang tersenyum. Entah berapa banyak kebahagiaan kamu tangkap dengan kamera itu, fotomu benar-benar tersirat makna “bahagia” di dalamnya. Kamu menyadarkan kami kawan, tentang makna “bahagia itu sederhana” , kawan. Aku ingin seperti dirimu, man. Aku ingin merasakan apa yang kamu rasakan. Mengapa kamu bisa sebahagia itu? Padahal beban hidupmu begitu berat. Hidup miskin apakah tak terlalu berat bagimu? Dibeda-bedakan orang, dicaci maki , apakah kamu tidak sakit hati?. Aku penasaran hatimu itu terbuat dari apa? Kenapa bisa selembut awan? Sebiru langit? Sesejuk embun pagi? Aku ingin sebentuk hati itu man. Untuk itu aku disini, untuk itu aku ingin menjadi kawanmu. Aku bisa mengajarimu memotret, tapi dengan syarat kamu harus mengajariku “bahagia”. Iya man! “Bahagia yang Sederhana”.

NB.

Aku menulis surat ini dengan rindu memenuhi ubun-ubun kepalaku. Utang rindu harus dibayar dengan pertemuan. Tak sabar aku menyelesaikan magangku disini, kemudian nanti kita bisa bermain lagi. Aku akan mengajarimu banyak hal lagi.

Dari sahabatmu @deus_amoris

3 thoughts on “Bahagia yang Sederhana

  1. Radite says:

    Coba disisipi foto lukman mas,pesti yg baca punya bayangin gimana lucunya lukman .)

  2. Radite says:

    Oke,thx mas uda di upload,
    lucu ya,gemesin😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: