“Hei”


“Hei” itu kata yang pertama tercetus di pikiranku ketika menulis bait awal surat ini, aku bingung apa yang harus kuucapkan selain sapaan ramah bernada perkenalan kepada orang asing sepertimu. Kepada kita yang kenal sejenak saja, tetapi bagiku seperti mengenalmu telah lama. Aku menulis “Hei” di penggalan kepala surat, membayangkan menyapamu untuk pertama kali pada suatu pertemuan. “Hei, kamu” sapaku hangat. Bolehkan aku memanggilmu “kawan bicara”?, karena sekarang aku sudah sedikit mengenalmu. Sebelumnya memang aku menyebutmu “lawan bicara”, karena kupikir kita seperti sepasang penumpang kereta yang tak saling sapa karena tak saling kenal.

Aku membayangkan kita itu seperti sepasang penumpang yang tak saling kenal di dalam sebuah kereta yang melaju kencang. Kita duduk saling berhadapan, lama kita saling berpandang, tak kunjung kita berbicara. Aku mencoba menahan kata-kataku yang tertelan di kerongkongan, mencoba untuk tidak memuntahkannya ke dalam sebuah percakapan. Tetapi tiba-tiba bibirmu melengkung senyum, Itu senyum terindah yang pernah kulihat. Aku tak kuat menahan kata-kata ini, ya sudah kulepas saja kata-kata itu dalam sapa, daripada bergaduh didalam kepalaku. “Hei” sapaku membelah keheningan. Sepenggal sapa itu saja yang kuucapkan? Payah sekali aku!. Aku menyapamu dengan sedikit terbata dan bibirku merapat sedikit, sehingga kurang jelas terdengar, aku takut gigiku keliatan supaya tidak keliatan menyeramkan. Tak satupun kata terucap dari bibirmu, kamu hanya tersenyum manis. Bibirmu melengkung sempurna, seperti pelangi setengah lingkaran penuh. Aku pun balas tersenyum, “terima kasih sudah membalas sapaku” batinku. Di tengah bising derik roda kereta dan rel beradu. Para pengasong berteriak dari bangku ke bangku, sambil melempar-lempar dagangannya. Kita tenggelam dalam hening sepanjang perjalanan, kereta masih melaju. Kita masih saling pandang, saling senyum, entah sampai kapan. Yang jelas, aku betah berlama-lama memandangimu.

“Hei”, Aku masih mengingat bagaimana caranya tersenyum kok. Tau tidak? Bahkan aku menggambar emoticon senyum di halaman depan note harianku, supaya aku tidak lupa lagi bagaimana caranya tersenyum. Dan ketika aku lupa, aku masih bisa mengingatnya dengan menirukan emoticon senyum di lembar halaman depan. Aku terus menerus tersenyum sepanjang ku menulis surat ini. Mungkin karena tulisanku terlalu kubuat-buat indah supaya kamu terkesan. Tidak kok, aku menulisnya tulus tanpa minta imbalan dipuji. Mungkin juga, karena aku membayangkan kamu tersenyum saat membaca setiap huruf yang kutulis, kata yang kurangkai menjadi kalimat, dan beberapa paragraf untukmu. Ya mungkin saja, tapi senyumku tetap tulus kok. Aku sebegitu inginnya mengetahui apapun tentang kamu, aku ingin mengenalmu lebih dalam. Setiap pesan tertulis, kata terucap atau bahkan tulisan yang engkau tulis yang kau tujukan kepadaku. Aku begitu ingin tahu semua kosakata yang berhubungan denganmu, sehingga nanti aku bisa menuliskannya dalam sebuah note yang kuberi judul bertuliskan “kamu”. Maaf, aku begini karena aku pelupa. Pikirku penuh sesak kenangan pahit di ubun-ubun, sampai-sampai tak cukup besar ruangku menyimpan semua memori indah itu. Untung bagiku, kenangan pahit itu hanya asap hitam saja tanpa bentuk rupa dan bisa hilang kapan saja. Berbeda dengan memori manisku yang berbentuk simfoni lagu yang lebih merdu dari dentingan piano mozart, lukisan impresionistik yang lebih indah dari van gogh, atau ornamen cantik yang menghiasi basilika santo petrus di vatikan. Kamu mau jadi bagian mana? kenangan pahit atau memori manis yang selalu kuingat? You choose!

“Hei”, itu yang kuucap pertama kali kita bercakap di telfon. Aku mengucapkannya dengan penuh antusias, setengah berteriak. Suaramu serak basah, dan jujur! aku suka suara kamu. Aku selalu gugup ketika berbicara dengan wanita, apalagi dia yang kusuka. Gugup membuatku lupa harus berbicara apa. Tenang, sudah lebih dulu aku buat contekan kok di sobekan kertas kecil, supaya tak lupa harus bicara apa. Walaupun begitu aku tetap gugup, dan akibatnya lebih banyak hening di tengah-tengah. Ah, tetap saja aku suka percakapan kita, apalagi ketika saat kamu bersuara. Kesal itu ketika aku harus bercakap denganmu di telefon, ketika diriku sudah kelewat antusias dengan terlalu percaya diri, dan kamu membalasnya dengan suara datar dan nada tak acuh. “Ya udah sih, terserah sih, apa sih” setiap katamu dengan nada flat. Aku diam saja, sambil tertawa kecil, “ya ampun judes bgt nih cewe” batinku. Suaraku dan suaramu berpadu di pesan suara. Aku tenor dan kamu sopran. Kita berdua simfoni yang saling mengisi.

Ketika aku menulis surat ini, aku sudah beranjak pergi dari Yogyakarta . Singgah sejenak di Jakarta, kemudian terbang lagi ke lampung. Sebulan ini aku akan tinggal di kota gajah, aku sedang dalam proses menyelesaikan studiku, dan ini bagian dimana aku harus turun untuk bekerja untuk orang di perantauan. Semoga berjalan lancar magangku ini, aku hanya butuh usaha dan lebih doa. Doakan studiku lancar ya! Atau begini saja, kita saling mendoakan biar adil. Semoga studimu selalu lancar, begitu juga studiku. Semoga selalu baik keadaanmu, pun aku. Semoga, muka cemberutmu selalu dihiasi senyum yang melengkung itu, begitu juga senyumku. Amin, kamu juga harus mengaminkan biar malaikat bisa curi dengar dan Tuhan cepat mengabulkan. Ehm iya, terima kasih ya ucapan baiknya setiap pagi, siang, senja dan malam, terima kasih telah membantu menyelamatkan keberadaanku sebagai seorang kawan. Semoga kamu tak bosan. Terakhir, aku menjanjikan kita sebuah pertemuan, “Rendezvous”. Sang masa yang akan ambil bagian dan yang pasti adalah bukan sekarang. Biarkan aku menyelesaikan studiku dulu, memenuhi citaku untuk meraih masa depan. Aku janji nggak bakal lama.  Siapa tahu kamu sudah disandingku ketika aku wisuda nanti, hha. Kamu tau kalau aku orangnya suka bercanda, don’t take it seriously. Tapi sekali aku bersungguh-sungguh kepada seseorang, seterusnya akan bersungguh-sungguh. Terima kasih sudah menyempatkan waktu membaca surat dariku, aku tak mengharapkan apapun kecuali balasan darimu. Bye! See you around.

Teruntuk kawan bicara

Dari @deus_amoris

Aku menulis surat ini ketika kamu tertidur di kereta. Sepertinya kamu lelah sendiri, begitu pula denganku. Balas suratku ya, aku akan di stasiun besok pagi lagi untuk menunggumu, untuk menemanimu di sepanjang perjalanan. Setiap hari aku akan datang, sampai kamu mau menemuiku dan membalas suratku. Bye! – Dari penumpang kereta di depan bangkumu

2 thoughts on ““Hei”

  1. @itznan says:

    Hebat, luar biasa kau lek! Salut untuk semua karyamu, lanjutkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: