Aku membenci waktu


Hei kamu! Sebelumnya aku tak pernah menuliskan kata “cinta” begitu banyak dimana saja penaku tergores. Di lini masa sekalipun, aku berusaha untuk menyimpannya dalam-dalam dalam bejana hati. Bahkan tak pernah tersebut apapun itu yang bernada “cinta” dalam catatan harianku. Tetapi kali ini aku akan buat pengecualian, aku akan menuliskannya. Hatiku hanya sesempit genangan, tak pernah cukup lebar untuk menyimpan rasa cinta darimu yang seluas samudera. Aku akan menyiramkannya kepadamu lewat kata-kata, biar kamu tahu bagaimana rasanya dihujani rasa cinta yang tak berbalas. Asaku sudah putus melihatmu sudah begitu jauh berlayar meninggalkanku, sedangkan aku masih di dermaga berenang mengejar kapalmu yang sudah jauh di ujung samudera. Engkau di pulau selebes, di kota berujung pandangan. Aku di pulau jawa, di kota raja-raja. Jarakku dan jarakmu jauh dipisah lautan. Engkau di timur lautku, aku di selatanmu. Teriakku keras lepas tergulung selat, tapi tak pernah terdengar.

Aku tak tahu lagi bagaimana supaya engkau bisa mendengarku, kukirim saja surat cinta yang lebih seperti surat patah hati lewat #poscinta ini kepadamu agar engkau bisa membacanya. apapun yang kutulis tentang patah hatiku. Aku tak pernah segelisah ini sebelumnya, aku tak pernah berpuisi sajak tentang cinta, cita dan cindur mata. Aku tak pernah bersenandung untuk seseorang, kemudian mengungahnya ke awan suara, berharap engkau bisa mendengar suaraku setiap saat. Aku tak pernah berucap begitu baik kepada seseorang kecuali kepada mereka yang kuanggap dekat. Aku tak pernah merasa resah, ketika tak ada pesan singkat darimu di kotak masukku. Aku ingin menelponmu setiap saat hanya untuk mendengarkan suara manjamu. Aku ingin menyakinkanmu kalau diriku itu nyata, bukanlah semu atau maya. Aku ada walau tak beraga.

Saat itu sedang putus asaku, matiku ditikam bosan. Entah aku yang terlalu mendramatisir keadaan ini, jika iya berarti aku bukan aktor yang baik. Aku susah menyembunyikan segunung perasaan ini. Tubuhku hanya selambai semak-semak, sulit ku menutupinya.  Aku selalu bersikap ramah kepada semua orang, bahkan kepada yang tak kukenal, aku selalu menyungging senyum. Menebar senyum, menyebar ceria, berbagi bahagia. Itu semua yang nampak diluarku, tetapi kenyataan sebenarnya aku meradang di dalam teracuni rasa hampa oleh apa yang mereka sebut “Cinta”. Jangan engkau memandangku di sebelah kiriku, pandanglah juga sebelah kananku yang tertudung bayang. Kalau tidak seperti itu, engkau belum melihatku seutuhnya.

Aku selalu berkecukupan, tapi lama kurasa ada yang salah dengan diriku. Ada bagian puzzle yang hilang, yang belum sempat kutemukan. Ya! Hati ini sudah terlalu lama kosong, terkorosi karena tak pernah terisi. “I need a love”, hal dasar yang setiap yang bernyawa, supaya dibilang manusia. Awalnya aku acuh saja dengan perasaan yang menurutku cengeng dan payah, mungkin hanya galau ku yang mampir sebentar saja. Lama kelamaan tak acuhku, kudapati lumpuh hatiku menyebar ke sistem sarafku membuatku lemas tak bertenaga. Aku terlalu lama diabaikan cinta, aku mencinta tanpa balas rasa.

Perasaan ini rasa yang paling aneh yang pernah kurasakan dalam hidupku. Entah mengapa aku begitu suka kepadamu, seseorang yang baru saja aku kenal beberapa minggu saja. Entah kenapa, aku begitu suka kepadamu yang masih labil dan manja. Entah kenapa aku tak bisa bertahan satu haripun tanpa memikirkanmu. Aku bodoh bukan? Mencintaimu itu bodoh bukan? Kalau mencintaimu itu bodoh, aku ingin menjadi orang bodoh selamanya. Sayang, waktu kita berbeda satu jam lamanya. Ketika aku datang, engkau sudah beranjak pergi. Kita takkan pernah bisa bersatu, dear.

Aku hanya punya secuil hatimu, sebongkah besarnya milik orang lainnya yang kamu cinta. Aku tak ingin dibilang perusak hubungan orang, biarlah begitu adanya. Aku bukanlah orang ketiga, bukan juga orang tengahmu. Biarlah aku tetap menjadi pelampiasanmu ketika engkau kesepian, aku bersedia menemani. Ketika dia tak acuh kepadamu, aku yang akan memper”hati”kanmu. Teman selamanya itu terdengar mengerikan bagiku, tapi jujur aku menikmatinya. Terus saja kau jejali hatiku dengan harapan semu itu, terus saja kau ucapkan cinta supaya terdengar merdu ditelingaku, terus saja buat diriku larut dalam cinta yang palsu. Sampai suatu saat ketika waktu berpihak kepada kita, walau engkau di timur lautku dan aku di selatanmu. Kita akan bertemu di timur atau tenggara dimana waktuku dan waktumu itu sama.

Akhir tahun ini aku ingin sekali menemuimu, jarak 5 cm di peta itu tak begitu jauh buatku. Tapi, ternyata kenyataan berkata lain. Sebelum kita bertemu, engkau mulai menjauhiku. Tampaknya waktu memusuhi pertemuan kita. Pertemuan kita itu tak akan pernah terjadi. Aku membenci waktu. Aku buang saja tiket pesawatku ke tempat sampah, sekalian membuang jauh-jauh perasaan-perasaan yang terlanjur kusimpan untukmu. “Selamat tinggal sayang”, hanya itu yang bisa kuucapkan.

13 thoughts on “Aku membenci waktu

  1. Radite says:

    Bagus loh suratnya,emosinya bisa sampai lewat kata-kata yg ada,
    semoga bisa sampai ke hati yang dituju )

  2. radite says:

    iya, tapi kayanya isinya agak menggalau deh,😛. Jadi pengen request buat ditulisin😀. Bisa ndak’an?😀

  3. radite says:

    tapi galaunya galau bagus. hahaha, kok kaya kaget? tapi boleh request?

    • ooh, minta ditulisin, kayak tulisanku bagus aja. wah, sepertinya tidak sekarang radite. Saya sedang tersangkut birokrasi akademik tetek bengek, saya juga harus segera melunasi janji yang sudah terlanjur kuucap ke orang-orang. Maaf ya, mungkin nanti.🙂

  4. radite says:

    emang tulisannya bagus kok, serius deh😀. Oh,oke mas. Semoga cepet kelar urusan sama akademik ya😀

  5. wah. terima kasih, radite. amin🙂

  6. Puspa says:

    sudah tersampai kah surat cintanya *eh surat patah hatinya* ? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: