Bersyukur


Setiap pagi, rasa syukur kepadaMu luntur sedikit demi sedikit. Setiap pagi, pikiranku dipenuhi oleh kemurkaan atas apa yang Engkau berikan kepadaku. Setiap pagi, aku hanya mengumpat “Apakah hidupku hanya akan seperti ini! Engkau itu Maha besar! kenapa engkau hanya memberiku sekecil ini!”. Kemudian lagi, hatiku dipenuhi rasa iri bercampur kedengkian ketika aku melihat mereka yang diberi lebih oleh Mu. Kemudian, kekesalanku hanya kulampiaskan di setiap doaku, memohon agar Engkau bisa adil terhadap semua ciptaanMu, termasuk hamba yang hina ini. Tapi ternyata, Engkau mengerti apa yang aku rasakan. Engkau memberiku pencerahan, memperlihatkan mana yang adil dan yang tidak.

Suatu sore, ketika aku mulai lupa akan segala nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku. Sesosok tua renta itu, dia buta. Tangan kirinya meraba-raba udara, tangan kanannya memegang tongkat kayu yang sudah keropos, tongkat tua itu sekaligus matanya. Pakaiannya lusuh kusam rombeng disana sini. Aku tertegun melihatnya, dia bukannya mau meminta-minta. Dia berjualan kemocing yang disampirkan disekeliling pinggulnya, sedangkan kepalanya menyunggi tumpukan keset warna warni. Berjalan menyusuri jalan raya yang ramai disamping gedung kampus biru, tongkatnya mengetuk-ngetuk batu pondasi trotoar agar tetap benar jalannya di pinggir. Dengan lantang meneriakkan, “kemocing! kemocing! ayo dibeli! keset juga ada!”, Aku dan temanku hanya terpaku melihatnya dari jauh, kami tak bisa berbuat apa-apa. Tampaknya dia tidak mau ditolong, orang-orang yang kasihan kepadanya berlomba-lomba menolong, tapi dia menolak dengan perkataan halus “tidak usah dek, saya masih bisa berjalan” jawabnya sambil tersenyum, Senyum yang paling tulus yang pernah aku lihat. Melangkah terseok-seok, menginjak aspal hitam yang panas tanpa alas kaki. Dia berlalu, terus berjalan menapak jalan tanpa arah tujuan. Dia berlalu melewatiku, dan aku hanya diam. Nurani memaksaku bicara, tapi ego membungkam mulutku. Menjahit kedua bibirku, karena terlalu latah tuturku berkata. Aku hanya tertunduk penuh haru, sendiri mengutuk diri. Ingin sekali ku berucap sapa, menanyakannya mengapa sengsara setia membuntuti hidupnya. tapi, tidak.. aku..

Aku bukan diriku yang dulu, Dunia sebegitu gilanya sampai peduli saja dikaburkan malu. Sungkan begitu saja, harga diriku terlalu mahal untuk ditawar, sombongku terlalu samar untuk diumbar. Susah sekali untuk bersyukur di masa sekarang, ketika orang-orang mengukur kebahagiaan dengan segenggam harta. Materi yang tak akan kau bawa saat tiada. Kau hanya bertelanjang dada saat menghadap Tuhanmu, terlihat segala macam buruk rupa. Dunia seisinya itu fana, kebenaran hanya ada di langit. Jangan terlalu larut dalam persandiwaraan ini, Sayang. Lambat laun kau akan terbawa peran, kawan. Matamu dibutakan sorot lampu, teman. Keep in faith! Percayalah kepada Sang pencipta, hanya masalah masa saja! semua akan indah pada waktunya. Sudahkah sayang, kawan dan teman?berucap syukur nikmat yang diberikan Tuhan kepada kalian hari ini, balaslah kebaikan Tuhan dengan peduli, saling mengasihi kepada mereka orang-orang bernasib malang. Bacalah hamdallah,  Pujilah Tuhan semesta alam. Hidupmu akan berkah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: