Buih-buih keyakinan


Kita hidup di jaman dimana orang sudah tidak memiliki kepercayaan, dimana tuhan itu mitos, dimana agama hanya sebagai pakaian yang dipakai supaya pantas, ada diantara mereka berpakaian hanya karena takut dianggap munafik, sebagiannya lagi tetap telanjang bertuhan kepada ego mereka sendiri.  Egoisme itu tumbuh di diri masing-masing orang, karena mereka menganggap keberadaan mereka itu sempurna dibanding manusia lain. Rasa ingin tahu  yang tidak pernah cukup, karena manusia memang tak pernah puas, manusia terus mencari definisi dari arti kehidupan hanya bermodalkan akal yang terbatas, teori yang mereka buat sendiri dan membuat semuanya berada dalam kaidah yang telah ditentukan. Sampailah pada titik dimana habisnya batas pemikiran  dan tidak ada lagi teori yang bisa menjelaskan kebingungan mereka. Yang bisa mereka lakukan hanya prediksi, menebak kemungkinan dan mengganti hal-hal yang menyimpang sebagai error.

Mustahil keajaiban akan muncul di kala sekarang, karena keyakinan sudah musnah ditelan oleh logika yang memaksa kita untuk berfikir rasional dan realistis. Tidak ada lagi sinter klas, tidak ada lagi surga dan neraka, tidak ada kehidupan setelah mati semuanya hampa. Aku pernah berkata pada seorang teman, “jika besok aku mati, aku akan bersenang-senang sehari itu seperti saat aku dilahirkan dulu, saat semuanya masih putih dan aku belum mengerti akan kehidupan, tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Saat aku mati dan diberi kesempatan bertemu tuhan, aku ingin sekali bertanya kepadaNya, kenapa engkau membiarkan kami tinggal di bumi sementara dulu engkau menyuruh kami tinggal di surga hanya karena dosa asal yang dilakukan oleh nenek moyang kami (hawa)? Kenapa engkau menciptakan kami lebih sempurna dari ciptaan engkau yang lain? Sampai-sampai setan pun iri dengan kami yang membuat kami ditendang dari surga dan bahkan menyesatkan kami sampai hari kiamat nanti”.

Mungkin aku pernah berfikiran kalau aku ini sedikit ateis, akan tetapi disudut hati yang paling dalam aku masih percaya dengan keberadaan sang pencipta. Setiap hari aku lantunkan doa kepada tuhan,”Tolonglah tuhan, berilah aku petunjuk jika engkau itu ada? Berilah aku tanda jika engkau memang berkuasa?”. Apakah engkau mendengarkanku?, bagaimana caranya aku tahu kalo engkau mendengarku?. Memang itu pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab, karena jawabannya memang mutlak, Agama itu mutlak. Sebenarnya jawaban semua pertanyaan itu masing-masing dari kita sudah memiliki jawabannya yaitu Keyakinan atau kepercayaan bahwa Tuhan itu ada karena tidak ada. Ada karena kita mengadakan Tuhan untuk menopang semua kepercayaan dan keyakinan kita tentang Tuhan. keyakinan itu seperti buih, timbul dari seember penuh ideologi, kemudian naik terus dan pecah ketika sudah terlalu tinggi melayang. Karena kepercayaan itu layaknya buih, hanya berbentuk air yang kemudian terisi udara, dan terkadang lama sekali hilang, tetapi kadang beberapa saat sudah hilang. Mengapa pertanyaan yang selalu dikaitkan dengan keberadaan Tuhan itu selalu retoris, karena tidak semua pertanyaan itu ada jawabnya, kita memang tidak perlu mengetahui jawabannya karena yang harus kita tekankan hanya meyakininya bahwa ada kekuatan supremasi yang jelas yaitu adalah tuhan yang selalu melindungi kita.

Lalu bila segala nilai itu hampa, apakah yang dapat kita jadikan pegangan? Agama? Terang tidak. Bagiku sesuatu yang berharga dalam  kehidupan itu, dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan – Soe Hok Gie

Kita tidak perlu mempermasalahkan keberadaan tuhan, seperti apa bentuk rupanya, dimana dia bertahta? Karena jawaban semua itu hanya dari satu sumber, HATI NURANI. Hanya hati nurani dimana jawaban itu selalu benar, jika kita menyangkalnya pasti itu dari OTAK, sumber segala pemikiran yang logis. Agama itu bukan semata hasil kebudayaan manusia, bukan tulisan yang dikarang-karang oleh orang suci, semuanya berasal dari Tuhan, tempat kebaikan itu tumbuh di hati nurani. bukan kita disuruh-suruh untuk sembahyang setiap waktu, bukan untuk pergi kebaktian ke gereja setiap minggu, karena dibalik esensi yang berbelit-belit itu ada kebaikan disetiap tindakan yang kita lakukan atas nama agama. Bukan aku mengatakan agamaku yang paling benar, aku mengatakan bahwa semua agama itu mengajarkan kebaikan, kebaikan terhadap sesame manusia. Soal benar atau tidaknya kembali lagi ke hati nurani kita, karena hanya kita sendiri yang menentukan itu benar atau salah, bukan ustadz, bukan pendeta yang membuat kita sadar akan benar atau salah, Tugas mereka hanya menyampaikan apa yang mereka rasakan saat hati nurani itu berbicara tentang keyakinan, tentang Tuhan. Seperti kata Gie “Lalu bila segala nilai itu hampa, apakah yang dapat kita jadikan pegangan? Agama? Terang tidak. Bagiku sesuatu yang berharga dalam  kehidupan itu, dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan”.

Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, sama halnya saat kita terlalu mencintai agama kita, cintailah secukupnya maka kita kan mendapat secukupnya juga. Bahkan karena cinta yang terlanjur dalam, hanya akan memunculkan fanatisme berlebihan, orang-orang rela mati demi agama, bahkan menyiksa dan membunuh sesama saudaranya atas nama agama. Memangnya agama itu mengajarkan untuk membunuh, alasan mereka atas nama agama? Apakah engkau tahu dan paham akan agamamu sendiri? Apakah engkau pernah bertemu kepada Tuhan dan bertanya agama siapa yang paling benar? Tanyalah kepada nuranimu sendiri? Hanya dirimu sendiri yang bisa menjawab semua pertanyaan itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: