Mengapa harus menulis ?


Akhir-akhir ini aku sering bangun pagi, hari ini juga. Mungkin baiknya kujadikan kebiasaan saja. Gegara bangun pagi, rasa malasku sedikit terkekang. Menguap-uap itu menjadi hal yang ganjil untuk dilakukan, hilang entah kemana si udara penyebab kantuk. Mataku menjadi lebih jernih, stress yang menyumbat di dahi, hilang ditiup angin pagi. Aku bersemangat hari ini.

Udara pagi itu dingin menyegarkan, dari tetes embun pertama kemudian saat mentari muncul seketika. Jam 3 saat fajar! itu titik waktu dimana suhu bumi itu serendah-rendahnya. Sadar atau tidak, panas yang dipancarkan mentari itu disimpan bumi. Kemudian saat malam datang, panasnya akan dilepas sedikit demi sedikit sampai fajar menjelang. Saat itu semuanya diam, angin pun tak berhembus. Berteriak saja, kau akan dapati suaramu jernih sebening kristal, gemamu lenyap tak ada udara menghantar.

Sebenarnya selepas subuh, aku ingin menyelesaikan bagian prolog dari proyek novelku tapi garis mati (deadline) segala revisi akademik tak mengijinkanku menulis beberapa kalimat. Prolog itu harus segera diselesaikan, walaupun kerjaanku yang sebenarnya memang ada dan nyata-nyata menumpuk, mungkin nanti saja aku kerjakan. Lama-lama aku ketagihan dengan kegiatan tulis menulis ini, disini aku menemukan caraku untuk berekspresi. Menegaskan eksistensi diriku sebagai manusia, karena manusia memang punya kebutuhan abstrak untuk mengenang dan dikenang, manusia butuh sesuatu untuk dicurahkan sebagai memori atau kenangan. Aku mulai menyukai karya sastra, menyenangi tulisan-tulisan, mencuri-curi waktu untuk membaca. Beberapa bait kata-kata yang kurangkai menjadi sajak puisi, atau tulisan filsafat yang sedikit melegakan kerongkonganku akan pertanyaan-pertanyaan sederhana sampai sesusah pragmatis, “Untuk apa aku dicipta?”.

Rutinitas akademik yang mulai mencemari bagian otak, mencondongkan kepala sampai jalanku harus menunduk keberatan, tersumbat penat. Aku perlu bercerita dan kebutuhan untuk menuliskannya. Satu-satunya cara yang masuk akal saat ini adalah dengan menuliskannya. Untung saja sifatku sedikit iseng, menulis blog pribadi dengan gaya bahasa yang ngawur , menceritakan pengalaman sehari-hari yang sifatnya masih ke-aku-an (sampai sekarang masih banyak “aku”nya). Pernah aku menulis tentang protes terhadap toleransi keterlambatan yang diberikan salah satu dosen, wow dan tiba-tiba esoknya menjadi buah bibir di kampus. Gegara tulisan kritisku di share oleh dosen pembimbingku sendiri, sampai dosen-dosen di kampus pada komentar di blog punyaku. Bahkan pak wakil dekan pun sempat membacanya, untung saja diriku tidak sampai di skors gegara tulisan sinisku. Dosen ya, cenderung seenak perutnya sendiri mengatur-atur waktu kuliah, menunda-nunda kelas secara mendadak. Jika dosen telat berjam-jam, alasan dosen yang tak bisa dibantah, rapat lah! ke luar kota lah! , Sebagai mahasiswa ya cuma bisa bilang “oke, you’re the boss! anda yang punya kuasa disini”. Lain halnya jika mahasiswa yang telat barang beberapa menit, yang dianggap hanya membual-bual alasan, Batas toleransi waktu sudah lewat!.

Menulis di blog rasanya hampir sama jika menulis di diary, note, jurnal, atau apapun yang bisa ditulisi. Mungkin ada kepuasan yang tersampaikan jika menulis di blog. Aku menulis ceritaku, rasaku, apa yang aku rasakan, supaya orang bisa merasakan apa yang aku rasakan. Terlepas dari mereka ingin tahu atau malah tidak peduli, menulis bagiku sangat menyenangkan. Lama kelamaan, aku bukan hanya mau menulis bagian personal hidupku saja, tetapi kemudian muncul pemikiran bagaimana jika aku menulis untuk orang-orang. Kalau sudah begitu, syaratnya harus mengetahui apapun yang orang belum dan atau ingin mereka rasakan. Apakah itu perasaan haru, sedih, gembira dan bahagia? tergantung mereka! aku cuma butuh merasakannya, kemudian menuliskannya. Hidup itu seperti kanvas yang siap dilukis, kau butuh beberapa warna untuk melukis. Warna itu sebagai rasa, semakin berwarna lukisanmu, semakin kau menikmati hidup. Siapa yang tak mau hidupnya warna-warni? siapa juga yang mau hidupnya monoton, “grey and white” atau sephia?. Kau hanya perlu menggores kuasmu yang berwarna-warni supaya lukisanmu lebih indah. Gambar saja sesukamu, yang penting membentuk pola. Warnailah bermacam-macam, cat warnamu tak akan habis. Hiduplah seperti lukisan yang indah.

OK, kembali ke topik. Publikasi! aku harus mempunyai suatu publikasi, aku ingin menulis suatu buku kemudian menerbitkannya. “Menulislah kalau mau dikenang sejarah” kata seorang pepatah yang kulupa namanya. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Tutur Pramoedya. Keinginanku untuk dikenang sejarah itu begitu kuat. Tak mau ku hanya menjadi batu, inginku menjadi monumen untuk dikagumi kemegahanku. Aku sudah menyakinkan diriku, yang kubutuhkan hanya inspirasi dan motivasi. Inspirasi dengan mencarinya dalam tumpukan kenangan, asinnya garam saat mengalaminya, atau menyitir dari pengalaman dari orang-orang hebat yang lebih dulu dariku. Motivasi? ya! bisa seperti dirimu. bagian hatiku yang romantis. Entahlah! memikirkanmu itu membuat otakku menjadi lebih encer rasanya. Ya, aku masih sabar menunggu, menanti engkau melengkapi rusuk sebelahku. OK! end of this year, my book must be published! Aku sudah setengah perjalanan berkat tekad, setengah lagi sampaiku. Tinggal usaha, dan doaku. ITU SIKAP! PRINSIP!

Yogyakarta, 13 Januari 2013

Tagged , , , ,

8 thoughts on “Mengapa harus menulis ?

  1. Radite says:

    Tulisan mu bagus,apalagi yg masih pake ke”aku”an,itu lebih menarik (menurutku),
    terus menulis ya,karena banyak orang yang akan tersenyum saat membacanya🙂

  2. Setiap orang punya cara tersendiri untuk menjawab pertanyaan paling mendasar dan filosofis “Untuk apa aku diciptakan ?” dan dgn jawaban di atas saya suport banget mas ^_^. Sukses ya novelnya kalau bisa sebelum lulus udah bisa cetak jadi bisa dapet novel perdana gratis hehe

  3. Radite says:

    Kalau udah terbit di share judulnya juga ya,biar bisa nyari di bookstore.
    Sukses ya,ditunggu novelnya ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: