Setangkai Mawar Pengabdian


541756_4436922438274_1521324543_n” Mas, mbak! silahkan beli bunganya. Ini untuk donasi anak-anak SLB, sedekah awal tahun, ayo silahkan dibeli ! “, teriakku ramah ke setiap orang yang lewat. Kugenggam beberapa kuncup mawar merah, bunganya basah karena hujan. Aku menawarkannya kepada orang-orang yang hilir mudik didepan benteng vrederburg. Aku tak sendiri, aku ditemani beberapa teman volunteer dari anak langit foundation. Kami berjejer layaknya keluarga mempelai yang menyambut tetamu dalam resepsi nikahan, bedanya kami tidak saling bersalaman tapi menawarkan beberapa tangkai kembang. Ada yang peduli, bersudi membeli beberapa tangkai mawar. Ada yang hanya melihat-lihat, berhenti sejenak mengangguk-angguk seolah mengerti apa yang kami bicarakan. Dan banyak lagi yang tak acuh , berpura-pura tak mendengar, terus lewat menerobos kerumunan, berjalan tak seimbang karena kepalanya kebesaran. Hujan malam ini tak jadi masalah,  hanya air yang turun. Hujan air yang disertai harapan disetiap butirnya.  Aku mencoba untuk menegapkan dada, menghela nafas panjang. Nafas sama panjang dengan harapan kami supaya bunga-bunga ini cepat laku terjual. Untung saja, teman-teman volunteer anak langit cukup kuat. Aku tak perlu patah arang lagi gegara pusing kehujanan sepanjang sore. Kami sudah mati rasa dengan rasa capai. Ketulusan untuk mengabdi terlalu kuat, entah apa yang menggerakkan otot-otot kami untuk tetap berjibaku, menegapkan diri. Di tengah riuh ramainya tahun baru, orang-orang mencari kembang api. Kami tenggelam  dalam lautan manusia di titik 0 kilometer, mencari ikan untuk makan anak-anak malang. berbekal sekail umpan bernama kepedulian.

Sejak senja sampai malam menjelang kami berjibaku, mengitari jalan-jalan malioboro. Menerobos hujan yang tak kunjung berhenti di langit yogyakarta. Malam ini malam tahun baru, ribuan orang membanjiri jalanan malioboro untuk merayakan momen pergantian tahun. Kami menyebar dikerumunan,mengais-ais belas kasih orang-orang. Segala puji Tuhan semesta alam, banyak yang masih peduli terhadap nasib anak-anak malang ini. Kami pulang menyesap haru, bertangkai-tangkai bunga kami laku. Aku senang tak menyia-yiakan waktuku untuk Aksi simpatik di malam tahun baru kali ini. Momen ini momen yang tepat untuku merasakan sedikit pengabdian. Semuanya memang bermulai dari perbuatan kecil dan niat tulus kita sendiri. Untung masih banyak yang hirau, mengacuh, Jika semua orang tak peduli, siapa lagi selain kita sendir yang mengurusi “Social awareness”, siapa lagi selain kita sendiri yang mengurusi kasih mengasihi sesama manusia. Aku peduli! Kami peduli! Anak langit peduli!.

Jujur, ini pertama kalinya aku ikut kegiatan sosial. Aku memang orang yang egois dan cenderung malas mencampuri urusan orang lain. Selama itu tak melanggar garis batas hakku, aku tetap akan diam. Tetapi lama-lama berdiam malah membuatku seperti katak dalam tempurung. Aku kehilangan sense of life ku, harkatku sebagai manusia seperti terendahkan. Ya, memang benar manusia itu makluk individu, tetapi ada sesuatu hal lain yang membuat manusia itu utuh untuk bisa dikatakan “Manusia”. Aku butuh rasa mencintai, aku punya hati untuk dibagi. Caraku membaginya dengan merasakan iba kepada mereka yang tak bernasib seberuntung diriku. Iba hati itu seperti rasa cinta yang akan bercikal nantinya. Cikal bakal yang nantinya yang akan kuberikan dalam bentuk pengabdian. Aku yakin cikal biji itu akan terus tumbuh besar, daunnya akan rimbun, akarnya akan kokoh mencengkram tanah. Itu perumpamaan yang saja yang kugambarkan untuk Anak Langit Foundation. Fondasi yang didirikan berbekal sepercik kepedulian kepada mereka, anak-anak yang dilahirkan kurang sempurna. Anak-anak malang, yang tak pernah bisa melihat indahnya dunia karena tuna netra. Mereka yang tak bisa mendengarkan simfoni merdu, karena tuna rungu. Mereka yang kesusahan menggerakkan raga, karena tuna daksa. Mereka juga, tunagrahita yang berat kepala karena tersumbat fikirnya. Sebagai manusia yang dilahirkan dengan fisik yang sempurna, aku merasa malu terhadap diriku. Malu ku karena tak bisaberbuat apa-apa, sedikit peduli saja yang ku ada, sedikit iba saja yang kupunya. Aksi simpatik malam ini seharusnya menjadi titik balik bagiku untuk menjadi “Manusia” yang sesungguhnya. Aku tak berhenti hanya sampai pengabdian kecil ini saja, aku terus menunggu bentuk pengabdian yang lebih besar. Aku takkan menunggu ombak yang besar itu datang, gelombang itu akan ku hempas sendiri dari riakan kecil sampai besar meggulung-gulung. Teman-teman volunteer membopong tulang punggungku, memberiku arah kemana kepedulian berada, menyadarkanku untuk menjadi “Manusia” sesungguhnya, memberiku arti cinta yang sebenarnya. Lautan pengabdian, hatiku itu bermuara.

Kau mau ikut berenang  denganku tak? atau hanya terombang-ambing gelombang, kemudian ditenggelamkan. Jika begitu, hatimu hampa. Kau tak kan muncul lagi dipermukaaan, kau akan musnah ditelan palung keacuhan. Ikutlah dengan kami, meresapi indahnya berbagi kasih, mendalami rasa cinta yang sesungguhnya. To be “Real Human Being” and “Real Hero”. Anak Langit Foundation.

Yogyakarta, 4 Januari 2013

Tagged , , , , ,

2 thoughts on “Setangkai Mawar Pengabdian

  1. Radite says:

    Tulisan nya bagus,😀 untuk refleksi diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: