Kampus biru, masih samakah seperti dulu?


Akhir-akhir ini di kampus aku merasa seperti orang asing. Ter”alienasi” dari pergaulan sosial kampus yang semakin berubah. Dulu, aku hampir kenal setiap orang di kampus, mulai dari tukang sapu, tukang potong rumput, tukang fotokopian, petugas perlengkapan, bahkan sampai aki-aki penjual es pong-pong. Semuanya akrab kusapa, di setiap persimpangan ada saja yang melempar senyum, aku tak segan balik membalas. Sekarang tak semuanya ku akrab, bahkan dosen pembimbingku sekalipun. Hubungan kita hanya sekedar titip nama, pamer istilah akademis. Setiap semester hanya meminta tanda tangan kartu rencana studi, tanpa sepatah kata berucap langsung berlalu pergi dari kantor sang professor, jikalau ada itu cuma basa-basi untuk memecah kebungkaman. Hanya setengah tahun sekali kita bertemu.

3 tahun ini aku merasa sama saja di kampus, monoton, tak ada yang berubah, atau memang aku saja yang statis. Seperti lagunya maria dacal tapi diganti liriknya ”Everybody’s changing and i still feel the same”. Baru tahun-tahun ini, aku merasa banyak perubahan meyebar merata dikampus, baik positif atau yang buruk-buruk saja. Dilihat dari berbusana saja, mahasiswa tampaknya mulai berubah gayanya berpakaian. Kesan glamor, mewah, dan make up tebal  yang lazim ditemui, tak ketinggalan untuk mahasiswi, pakaian super ketat dan crocs diujung kaki. Untuk mahasiswa, berbusana warna-warni terang berbelang-belang, memakai cawat gigi alias behel supaya giginya mengkilat, petenteng-petenteng seperti anjing habis dimandikan tuannya, tak sopan karena tak menyapa yang tua. Semuanya berlomba-lomba pamer, menunjukkan eksistensi diri dengan cara yang berlebihan. Segala macam pamer, dari pamer busana sampai pamer harta (pamer harta orang tua). Kalian itu mau niat belajar, atau mau pergi berbelanja di mall? di sd diajarkan norma kesopanan tidak? kalian diajarkan pkn tidak? “pikirku. Tenang, aku bukannya menjelek-jelekkan, aku bilang itu cuma kecenderungan saja, yang lain banyak kok yang masih tetap setia dengan gaya sederhana tapi menarik. Fenotip itu tidak penting, semua dinilai dari isinya dan tentu saja lingkungan sosialnya masing-masing.

Mahasiswa sekarang lebih kritis, walaupun kritisnya itu terkadang tak mendasar apapun. Ada yang memang bersikukuh dengan idealismenya, ada yang hanya ikut-ikutan, ya mereka itu anak itik dari politik kepentingan golongan tuan-tuan pintar. Kritis tak mendasar yang sering saya temui. Saat presentasi saja, memaparkan fakta ilmiah dengan kata “mungkin”, sungguh tak mencerminkan civitas akademia yang bersikap ilmiah. Idealisme yang suka goyah, mudah saja terkena bisikan gaib golongan kepentingan. Itu lah akibatnya jika hanya mendasar dari “katanya” tanpa literatur yang jelas, teori-teori yang sudah dicipta itu untuk ditinjau ulang bukan untuk dijadikan pedoman, nantinya teori itu akan usang tergerus arus zaman yang semakin maju, teknologi baru yang menuntun kepada penelitian mutakhir. Idealisme tanpa fondasi itu bagai air di daun talas, bergerak ke sana kemari, tak pernah konsisten. Kritis yang tak mendasar itu hanya omongan semu, asumsi tanpa referensi itu pemikiran tanpa logika. Mau jadi apa kau? pengikut terus?

Aktivisme menjadi lebih berkembang baru-baru ini di kampus biru. Mungkin gegara nilai kerakyatan yang mulai luntur tertutup warna-warna kapitalisme. Gadjah mada yang dulu kampusnya rakyat, sekarang menjadi eksklusif miliknya kaum kapitalis. Lihat saja gedung feb, sudah mulai masuk pihak-pihak oportunis dari bos-bos jualan minyak. The twin tower yang diagung-agungkan, simbol kapitalisme yang bener-bener mencolok mata. Pemira, pemilihan raya, ajang berpolitik kaum-kaum cendekiawan kampus biru. Seperti sabung ayam, pemira itu juga punya taruhan. Siap-siap saja kalah kalau dirimu tidak punya ayam jagoan yang gagah, taji yang dibuatkan si empu ayam, jamu kuat yang diminumkan setiap hari. Sama halnya dengan dukungan pihak-pihak belakang dari partai independen atau apalah itu, mereka mencoba kuat-kuatan berjalan di atas padang es tanpa beralas kaki. Entah itu hanya kabar burung atau gosip untuk menjatuhkan kandidat lain, tapi aku mendengar dengan jelas ada beberapa partai yang disisipi partai politik yang ingin mendobrak masuk pintu belakang kampus biru. Iya kan, segala cara harus dilakukan agar pengaruhnya bisa tersebar, termasuk dengan usut-usut pemira. Aku tak habis pikir juga, iklan-iklan kampanye pemira yang cenderung seperti guyonan daripada menyampaikan visi misi masing-masing. Kalian itu mau “guyon” atau mau memimpin? kalau iya terpilih, ya mimpinnya dengan cara “guyon”. Problem?.

Masalah KIK (kartu identitas kendaraan), yang dulu memang jadi topik perdebatan yang panjang. Sampai-sampai demo-demo dilakukan oleh para penolak kebijakan, kemudian media mulai menulis tajam, ugm tersorot. Masyarakat mulai berfikir gadjah mada itu kampusnya orang-orang elit yang berduit, masuk saja harus bayar karcis. Mau membangun sistem kampus yang educopolis tapi malah terjebak eksklusifitas gegara permodelan kampus meniru-niru pendidikan ala barat. Bukan KIK nya yang jelek, sistem ini memang didesain untuk menciptakan kawasan UGM yang tertata dan kondusif untuk kegiatan perkuliahan. Tapi yang jadi persoalan, disinsetif dari karcis-karcis berbayar untuk masuk gerbang depan kampus itu kemana nasibnya? Semuanya masuk rekening rektor, bukan ke kas negara. Hampir 1,4 milyar dana disinsetif dari karcis kuning tanpa adanya transparansi yang jelas. Ini jelas sekali praktik maladministrasi, atau penyelewengan? well i don’t know, yang jelas itu duit tidak sedikit lagi, dan tanda tanya besar kantong siapa yang cukup besar menadahnya. Rakyat jelata kan cukup tahu saja. Yang menjadi sedihku itu ketika aku masuk kampus sendiri harus membayar, ironis sekali masuk kandang harus bayar parkir juga. Ironic!

Aku bukannya apatis, tetapi sudah lelah rasanya harus berurusan dengan politik kepentingan semacam itu. Jadi aku menempatkan diriku sebagai pihak netral, bukan golongan putih. Aku masih peduli kok dengan nasib kampus biru tercinta. Selagi tidak menyenggol kepentinganku, melanggar hak-hak ku sebagai mahasiswa, I will stay calm!. Kau tahu! jika engkau sudah melanggar, aku bisa lebih kejam daripada politik ecek-ecekmu.

Tagged , , , , , , ,

4 thoughts on “Kampus biru, masih samakah seperti dulu?

  1. aku gak anti politik, tp aku juga gak sepakat dengan politisasi di semua bidang, terutama himpunan mahasiswa. Kita cukup tau aja, jangan ikut arus, kata mbah @sudjiwotejo hanya sampah dan ikan mati yang ikut arus. kapitalisme terbukti bikin tambah ancur. Pahami Pancasila, amalkan ilmu demi bangsa dan negara.

    terus berkarya kawan, tulisan itu lebih tajam dari pisau

  2. sedang mengasah pisau supaya lebih tajam lagi.🙂

  3. Mau membenahi sistem fer?? Kuliah yang bener, pertinggi IPK, lulus nanti kuliah lagi sampai jenjang tertinggi untuk menjadi dosen. Ketika jadi dosen otomatis sudah masuk ke sistem birokrasi. Benahi pelan-pelan. Jangan cuma cuap-cuap protes. No offense lho ya.. Petinggi sana udah kadung acuh sama tulisan-tulisan even bagus dan kritis sekalipun. Butuh aksi bukan hanya sindiran dan kritik sinis. Sukses ya..!

    • cuma curhat kok mbak, daripada di pendam jadi jerawat. ya! action pasti ada nanti, iya belum saatnya aja. Soalnya saya orangnya acuh, selama nggak ganggu kepentingan saya sih, sih terserah. Iya, sukses untukmu jg🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: