Hari ini, sepanjang sendu, kala mendung betah bertengger dipinggir kelopak matamu.

Lama langit memendam sedih, tapi tak cukup banyak haru untuknya menangis.

Hujan, saat langit dan bumi merayakan perpisahan mereka.

Hanya berpandang dari jauh, menatap gusar.

Mengapa engkau hanya menatapku? kata langit.

Bumi membisik pelan”aku selalu ingin bertemu,  dan memelukmu erat. tapi anak-anak kita akan tertindih karenanya”.

Langit menangis lagi, kadang disertai raungan marah, wajahnya suram kelabu tertutup mendung.

Kala itu, tiba-tiba hati orang-orang merasuk sendu dan haru, tersemat gundah gulana. Gusar gelisah di dada seakan ikut merasakannya.

Kita saling bungkam, mulutku keram atau memang sudah habis ucapanku untukmu!

Engkau juga begitu, masa lalu membalut pikiranmu, masih menutup bekas luka yang tertoreh kala dulu.

Terkadang engkau buka, untuk memastikan lukamu sudah kering.

Engkau seakan sungkan dengan penawar yang kubawa,

Bagaimana bisa sembuh jika tak mau diobati? tanyaku. Biarlah begitu? biar aku merasakan sakitnya” jawabmu.

Engkau keras hati, aku melembut melebur.

Ya sudah, terserah engkau saja. Jika engkau memang masih ingin merasakan sakit. Aku mengerti. Akan kutunggu, sampai lukamu kering.

Jika engkau sudah sembuh nanti, biarkan aku menggendongmu keliling duniaku, mencicipi berbagai macam rasa yang sudah aku masak matang di bejana hatiku.

Aku memasaknya manis, seperti rasa cintaku kepadamu.

Yogyakarta, 15 Desember 2012

Engkau harus tahu

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: