“Happy” is a five letter word


Sore hari menjelang untuk menghantar siang pergi dan menjemput malam datang, lampu raksasa di langit jatuh ke barat jauh, makluk langit tampak sudah menyalakan lilin di kolong langit supaya bumi tetap terang di kegelapan, ribuan lilin itu terlihat jauh di langit timur. Tuhan melukis malam dengan warna hitam kelam, menempelkan bulan dan kerlipan ribuan bintang, lukisan Tuhan sangat indah malam itu, aku selalu tahu bahwa Tuhan itu pelukis impresionis, dan tanpa kita sadari setiap malam dan siang di langit adalah pameran karya seni Tuhan, walaupun terkadang sebagian dari kita merasa cukup sombong dan mengangap hal itu memang semestinya terjadi, “itu hukum alam!”,kata mereka. Sebenarnya siapa saja dengan mudah bisa melukis langit di kala malam, yang kau butuhkan hanya cat hitam yang cukup untuk menutupi alam raya, satu bulan dan beberapa bintang sebagai penghias, Langit sebagai kanvasnya, tetapi kita tidak memiliki semua itu kan?.

Bulan tampak terang bersembunyi dibalik awan kelabu, berarak menerangi malam. Suasana hening dan tenang sehabis hujan sore itu, udara menjadi dingin, rasa hampa yang semakin memenuhi pikiranku, hampa akan perasaan mencintai dan dicintai. Mungkin aku sudah mati rasa dengan perasaan itu, mungkin itu juga yang membuat diriku menjadi anti social. Aku lebih senang bersendiri dan mengurus urusanku sendiri daripada repot-repot mengurus orang lain yang tidak peduli dengan kita. Semuanya bersaing, berusaha menjadi yang terbaik, dan aku tenggelam di dalamnya. Mengalir seperti air, arus yang membawaku sampai disini walaupun terkadang aku sering tersangkut dan berbelok ke tepian, tapi aku tetap sabar menunggu arus yang lebih besar membawaku ke tujuan akhir. Aku semacam batu, perlu waktu ratusan tahun untuk melapukanku, walaupun kamu memecahkannya dengan palu, aku akan remuk dan menjadi kerikil, bahkan kerikil pun adalah batu hanya berukuran lebih kecil.

Aku terbangun saat angin menghantam pintu kamarku, kemudian menerpa wajahku dan membisik di telingaku “bangun pemalas, sudahi mimpi semu itu” tapi selimut semakin erat membalut tubuhku dan bantal membekap telingaku, tapi aku tetap harus bangun sambil mencampakkan mereka. Ini pagi sebagai sore hariku, Malam sebagai siang hariku , dan subuh sebagai sore hariku. Hidupku memang sudah terbalik, siklus hidup yang terbalik, aku layaknya kelelawar, hewan nocturnal yang mencari makan di malam hari dan tidur di siang hari. Bedanya aku tak mempunyai sayap dan tidak melihat lewat pantulan suara. Orang-orang berbondong-bondong pergi dan pulang, berjalan membisu tak peduli sekitarnya, wajah mereka seperti meneriakan “Urus saja urusanmu sendiri!”. Wajah mereka muram sama seperti malam yang semakin suram. Aku sedikit geram dengan keadaan ini tapi harus bagaimana lagi, memang begitulah bagaimana dunia bekerja, aku dengan egoku dan mereka dengan egonya. Aku rindu hidup di desa dimana keramahan itu terbersit di senyum, pertolongan yang hanya cuma-cuma, dan kedamaian di hati setiap orang. Ketulusan itu merupakan hal yang lumrah, bahkan walaupun mereka tahu jikalau ketulusan bisa dibeli saat ini.

Aku lebih sering berjalan-jalan di kala malam, karena saat itu aku merasa bebas dan ruang untuk bernafas yang lebih banyak. Ipod tak lupa kubawa untuk menyumbat lubang telinga dari omong kosong orang lain, setiap perjalanan selalu diringi senandung dari playlist yang kupilih sesuai suasana hati, kadang lagu cinta dan paling banyak lagu bimbang, galau dan sedih. Suasana malam yang dingin dan menenangkan selalu mengingatkanku untuk kembali ke masa lalu, masa lalu yang masih putih tanpa noda, aku ingin mengubahnya sesuai keinginanku supaya penyesalan tidak selalu ada di setiap yang kau lakukan di waktu lalu mu. Kadang kita merasa semua yang kita lakukan salah dan selalu datang penyesalan di akhir, bukan semua yang kita lakukan itu benar dan penyesalan tidak akan ada kalau kita menghadapinya dengan tegar dan menerimanya kenyataan pahit dengan lapang hati.

God have a plan for all of us, we have to just go with the flow, faster we run, faster we reach our destination, The Happiness!

“Tuhan mempunyai rencana indah untuk kita semua, mengalir saja melalui arus, jangan melawan arus yang akan menyulitkanmu, semakin cepat kamu mengayuh semakin cepat kamu sampai tujuan.

Kebahagiaan itu sulit di gapai kata mereka. Mengapa begitu?

karena mereka meniru-niru definisi orang untuk bisa bahagia, memikirkannya dengan cara yang sulit, dan terperangkap didalamnya. Bagiku kebahagiaan itu hanya diri kita sendiri yang bisa menemukannya. Tidak perlu meniru-meniru mereka, Happiness is always found even the small things around us.

Aku tidak mengerti lagi mengapa harus seperti ini kehidupan adanya, hidupku dengan hidupmu, nasibku dengan nasibmu harus tidak sama, takdirku dengan takdirmu yang hanya Tuhan yang Maha Tahu. Sekarang dan nanti, cepat atau lambat kau dan aku akan gelisah akan pertanyaan klise yang susah dijawab, “Mengapa kita harus ada?”, “Mengapa kita diciptakan?”,”Siapa yang mencipatakan kita?”. Sebenarnya hanya itu saja, pertanyaan tentang hidup, pencarian tentang kebenaran dan jati diri. Kebenaran itu mutlak dan absolut tetapi kadang subyektif, Kebenaran itu mutlak karena ada definisi yang jelas, didukung kaidah dan teori yang mutlak. Kebenaran membuat kita selalu berjalan di jalan yang terang, di belakang garis aturan yang kita buat sendiri, sehingga kita bisa membuat kesimpulan mana yang baik dan mana yang buruk. Walaupun ada sebagian orang yang membenarkan hal yang buruk dan menganggapnya hal yang baik. Mereka yang disebut minoritas, ada sebagian yang ingin mengetahui kebenaran dengan melanggar batas yang telah dibuat, Mereka disebut pelanggar. Mereka berdosa karena rasa keingintahuan mereka akan wawasan di luar batasan. Pembuat kebenaran akan selalu dianggap pembual, seperti halnya ketika copernicus dicerca oleh gereja karena mengungkapkan bumi itu bulat, bahkan dihukum penjara dan dihina seumur hidupnya. Mereka tak peduli dengan kebenaran yang Copernicus katakan, Gereja kala itu tidak mau dianggap salah, Hukum mereka mutlak, hukum mereka berasal dari tuhan!

Pembuat kebenaran akan selalu dianggap pembual, seperti halnya ketika copernicus dicerca oleh gereja karena mengungkapkan bumi itu bulat, bahkan dihukum penjara dan dihina seumur hidupnya.

Sebagai manusia kita dapat mencari kebenaran dimana saja, termasuk aspek utama kehidupan yaitu Agama, Ilmu pengetahuan dan Filsafat. Ketiga sumber yang paling mendominasi dalam aspek kehidupan manusia. Filsafat adalah induk dari segala ilmu, pondasi awal dari segala ilmu. Filsafat bersifat rasional berasal dari pemikiran secara mendalam, Filsafat bersifat spekulatif dan mendekati mutlak karena kebenarannya hanya berupa keragu-raguan yang belum pasti. Munculah agama sebagai penghapus bentuk keraguan dalam filsafat, agama muncul sebagai panduan manusia yang kebenarannya bersifat mutlak dan absolut walaupun terkadang segi rasionalitas yang kurang, agama mengandalkan keyakinan yang kuat terhadap Tuhan dan kepuasan batin untuk yang memilikinya. Lain halnya dengan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan adalah hasil yang diperoleh dari teori-teori dan data penelitian yang empiris, logis dan ilmiah. Ilmu pengetahuan berkembang dari waktu ke waktu meralat teori yang sudah ada atau membuat teori yang lebih baru berdasarkan fakta empiris yang telah ada sebelumnya maupun yang belum ada, menggunakan teori dan data penelitian sehingga suatu hipotesis bisa mendekati probabilitas kebenaran.

“Sekarang kau boleh tidak patuh pada kebenaran

sekarang kau boleh egois

kau boleh sombong sekarang!

terserah apa maumu kehidupan yang akan mengajarimu nanti ” –  Mas Rudi

Ya, itu semua hanya bualan saja, itu hanya ocehan orang. Aku pun tak mau pusing-pusing memikirkannya, kebahagiaan itu mudah sekali ditemukan, bahkan dari hal-hal kecil di sekitar kita. Siapa bilang kebahagiaan itu sulit didapat, mengapa begitu sulit didapat? Kebahagiaan itu sulit digapai karena kita meniru-niru definisi orang untuk bisa bahagia, memikirkannya dengan cara yang sulit, & terperangkap didalamnya. Seperti kata Gie “Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan”. Kasih kepada Tuhan, sayang kepada keluarga, dan Cinta kepada kekasih, Agape, Philia dan Eros!.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: