5 tahun yang lalu


5 tahun lalu, saat itu aku sedang sibuk menghadapi masa-masa akhir sma. Ujian sudah dekat baik ujian nasional maupun ujian masuk PTN yang memang diadakan sebelum ujian nasional. Meja belajar menjadi tongkronganku sehari-hari, setiap hari selalu bergelut dengan soal-soal ujian. Aku hampir tak pernah keluar rumah sebulan sebelum ujian. Aktivitas dimulai dari bangun pagi buta, kemudian belajar (review mata pelajaran yang akan di pelajari di sekolah nanti, cek pr, sholat subuh, membantu ortu sedikit bersih-bersih pekarangan rumah). Waktu menunjukkan pukul 6, aku sudah bergegas berangkat ke sekolah, sampai sore sekali aku berada di sekolah bahkan kadang-kadang setelah magrib pun belum balik ke rumah semisal ada mata pelajaran tambahan (les). Waktu bermain pun tersita mutlak termakan waktu belajar. Pukul 6 aku telah berada di rumah, hanya mandi, makan malam, kemudian belajar sebentar kemudian tidur. Begitu aktivitas sehari-hari berulang-ulang tak ada hentinya. Dibilang capek sih capek bgt, tapi musti gimana lagi pengen lulus ujian ya harus belajar keras, pengen masuk ptn favorit ya harus belajar. Kata orang, No pain no gain, berakit-rakit dahulu berenang kemudian, bersakit-sakit dahulu senang kemudian. Masa-masa kritis ini membuat aku lebih deket sama yang di atas, berharap supaya keberuntungan nambah saat ujian nanti, biar pas soal pilihan ganda silang indahnya bener semua. Perbanyak sholat, berdoa, kadang-kadang kalau lagi mood sholat tahajud, minta supaya diberi kemudahan saat hari H nanti. Berfikir positif bias menambah motivasi belajar, Olahraga baik pagi atau sore supaya tubuh tetep bugar. Sebulan sebelum ujian nasional, saya mengikuti ujian masuk salah satu PTN favorit di Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada. Entah mengapa saya berambisi sekali ingin masuk PTN tersebut, sejak waktu kakak-kakak angkatan sma yang sudah lulus dan masuk ugm memberikan presentasi mengenai ugm di sekolah. Mereka memakai jas almamater yang berwarna khas hijau kekuningan, dengan logo ugm tertempel di dada sebelah kiri, berjalan dengan gagahnya memasuki area sekolah. Perasaan kagum dan bangga, alangkah bangganya jika menjadi bagian dari mereka. Sejak saat itu aku berambisi ingin masuk universitas gadjah mada, kampus birunya cendekiawan muda, Universitas tertua dan pertama yang didirikan oleh pemerintah Indonesia. Saya seorang siswa yang biasa-biasa saja, di bidang akademik saya pun hanya mendapat nilai yang cukup, ketrampilan olahraga dan seni pun juga biasa saja. Pada awal masuk sma, kami mendapat jatah kelas special, immersion class (kelas imersi), Immersion class itu sebenarnya hanya sebagai salah satu syarat sekolah mendapat predikat sekolah standar internasional, Mata pelajaran yang diberikan semuanya menggunakan pengantar bahasa inggris, 60 % bahasa inggris, 40% sisanya menggunakan bahasa Indonesia. Sebenarnya program ini baru dijalankan pertama kali oleh pihak sekolah, sehingga kami pun serasa menjadi kelinci percobaan. Kelas kami berada paling pojok di gedung sekolah dekat dengan ruangan kelas 11, terpencil dan dipisahkan dari ruang kelas 10 yang lain, membuat kesan kelas kami serasa eksklusif. Lokasi kelas yang terpencil membuat kami jarang sekali bertemu dari teman-teman kelas lain yang secara tidak langsung membuat hubungan kami sedikit kurang akrab dengan teman-teman dari kelas regular. Bahkan pernah saat itu kelas kami didatangi oleh anak-anak kelas regular, mereka sepertinya iri dengan keberadaan kami, anak-anak kelas immersi. Konflik hampir tak terhindarkan saat itu, seluruh anak laki-laki kelas imersi dipanggil semua termasuk saya, cuma ada kurang lebih 12 anak laki-laki di kelas kami menghadapi sekitar 40-an anak kelas regular. Entah mereka merasa iba atau apa, pengerebekan itu tidak dilanjutkan. Kembali ke Ujian masuk, ujian dimulai pada pagi hari, sehari sebelumnya saya dan teman-teman mengecek tempat ujian supaya nanti gak bingung-bingung cari tempat ujian. Karena kemaleman, kami memutuskan menginap di salah satu masjid di dekat perpustakaan tua ugm, di sekip. Untung saja dizinkan oleh penunggu masjid tersebut, kami diperbolehkan tidur di beranda masjid tanpa tikar, tanpa sekat dan ditemani tukang-tukang becak yang juga nitip tidur di masjid itu.
Pagi-pagi buta kami dibangunkan suara adzan subuh, kami segera bangun mengambil air wudhu kemudian masuk bergabung dengan jamaah masjid yang sudah ramai berjejer siap menjalankan sholat. Kami berdoa supaya dimudahkan saat ujian nanti, dan diterima sesuai jurusan yang kami pilih. Ujian dilaksanakan pukul 8 pagi  sampai pukul 1 siang untuk pilihan ipa dan ips, sedangkan untuk ipc dari pagi sampai pukul 4 sore. Selesai ujian, pusing menyerang, capek badan dan terutama capek otak. Tampak dari kejauhan mobil ayah, siap menjemput kami kembali pulang ke rumah. Ya, tampaknya aku sudah melakukan yang terbaik saat ujian tadi, sebulan belajar pun nampaknya tidak sia-sia, sedikit banyak bisa lah mengerjakan soal-soal tadi. Soal um ugm itu terkenal susah sekali, dan kadang-kadang ada soal yang dibuat tidak bisa diselesaikan dalam waktu 5 menit, manajamen waktu mutlak diperlukan saat mengerjakan soal, apalagi soal salah diberi nilai -1 sedang jika tidak menjawab nilainya 0, maka dari itu lebih baik tidak usah diisi jika kita sama sekali tidak paham soal tersebut, apalagi jika soal yang dihadapi adalah soal matematika yang membutuhkan ketelitian tinggi dalam mengerjakan, Salah satu koma saja pun dapat membuat jawaban kita salah. Ya, usaha sudah tinggal pasrah menunggu hasilnya, pengumuman masih sebulan. Sekarang tinggal mikir ujian nasional yang sudah didepan mata, percuma kan kalau ketrima di ugm, tapi gak lulus ujian nasional. Belajar dan belajar, les tambahan, diskusi-diskusi, try out semua cepat berlalu di waktu sebulan ini. Waktu itu 5 hari sebelum ujian nasional dilaksanakan, saat itu saya berangkat sekolah pagi-pagi sekali, pagi itu nampak cerah dan sejuk cuacanya. Pagi itu hanya beberapa siswa yang sudah tiba di sekolah, penjaga sekolah masih menyapu sekitar halaman, dan hanya perpustakaan yang sudah dibuka. Seperti biasa, Koran hari ini sudah di hantarkan oleh loper ke sekolah dan sudah tergantung di rak Koran. Iseng saja masuk perpustakaan dan membaca Koran hari itu, tampak dihalaman cover Koran ada tulisan “Pengumuman UM UGM pada halaman 15”, wow nampaknya sudah ada pengumuman, tanganku gemetaran ketika kubuka halaman 15, kututup kembali lembaran Koran itu, aku memutuskan untuk membuka nanti saat jam istirahat nanti. Sepanjang pelajaran  hari itu aku pun tidak benar-benar memperhatikan, pikiranku gelisah memikirkan hasil Um ugm tadi. Nampaknya seluruh kelas pun sudah mengetahui adanya pengumuman itu, mereka pun memberitahukan bahwa hasil pengumuman dapat diakses juga di internet. Tapi aku gak mau terburu-buru melihat pengumuman, takut sekali hasil yang diperoleh jauh dari ekspektasi yang diharapkan. Baru pada bel istirahat ke 2, perpustakaan terlihat ramai dari biasanya. Mungkin mereka juga ingin melihat hasilnya pikirku. Teman-teman sekelasku juga beramai-ramai dating ke perpus, aku hanya terdiam di bangku berlagak sok sibuk. kalau gak dipaksa temen-temen untuk ikut melihat, aku pun malas untuk ikut ke perpus. Beberapa teman yang meninggalkan perpus tampak dengan muka lusuh dan pucat, mungkin mereka tidak diterima batinku.  Mukaku mengkerut, keringat dingin, tanganku gemetaran saat salah seorang sahabatku menyampaikan berita itu kepadaku, seketika mukaku berubah menjadi cerah, senyum terbentuk di wajah tapi tak lantas membuatku percaya begitu saja.

TO BE CONTINUED🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: