Kearifan lokal masyarakat (gunung kidul), umbi lebih sip dari nasi


Masyarakat Gunung Kidul sebagian besar penduduknya adalah petani lahan kering dan tadah hujan. Banyak macam tanaman yang dibudidayakan, salah satunya adalah tanaman umbi-umbian atau palawija, seperti kedelai, jagung, ketela dll. Mereka biasanya bercocok tanam setahun sekali dengan mengandalkan hujan dan irigasi seadanya.

Yang menarik perhatian saya adalah kearifan lokal dari masyarakat setempat dalam hal bercocok tanam. Dulu masyarakat menggunkan hitungan kalender musim tani jawa yang mereka sebut “Pranoto mongso”. Pranoto mongso menggunakan tanda-tanda dari alam sebagai patokan dalam bertani. Misalnya, Jilung, istilah yang digunakan di pranoto mongso saat ditandai tumbuhnya umbi celung, yang menandakan musim tanam akan segera tiba. Rodung, mulai berseminya umbi gadung, menandakan para petani harus segera menyiapkan benih. Lutak, yaitu saat berseminya umbi umbi katak berarti tanaman harus segera disebar. Tanda-tanda dari alam seperti ini dipakai oleh petani lokal untuk memperkirakan kapan mulai bercocok tanam dan kapan mulai panen. Jika mereka tidak tepat waktu atau melenceng sedikit, dapat dipastikan hama dan penyakit tanaman bakal menyerang.

Sebelum masa tanam, para penduduk desa berkumpul di balai pertemuan untuk melakukan slametan, ruwatan atau kenduri yang intinya berdoa kepada tuhan supaya diberi kelancaran untuk tanaman yang ditanam dan hasil panen yang banyak. Prosesi slametan dipimpin oleh pemuka agama setempat dengan mengumpulkan berkatan (nasi dengan lauk dan buah-buahan) kemudian dibacakan doa yang nantinya berkat tersebut dimakan bersama atau dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarganya.

Tapi sekarang berbeda, modernisasi mulai merayap ke desa-desa, termasuk daerah gunung kidul. Tradisi seperti ini tampaknya mulai luntur imbas dari dampak modernisasi,anak-anak muda sekarang mulai lupa akan tradisi seperti ini, entah tidak tau atau belum diajarkan. Modernisasi tampaknya juga berimbas pada sistem pertanian, PPL bertugas menyuluh daerah gunung kidul menganjurkan untuk bertanam tanaman padi saja. Bahkan pada awal 80-an, setiap petani diwajibkan menanam padi di lahan pertanian mereka, bahkan ada cerita kalu tidak nanam padi dicap pki karena tidak menanam padi. Akibatnya, tanaman palawija, umbi umbian dll mulai terlupakan, hanya tersebar dipekarangan rumah, dibiarkan tumbuh liar. Orang-orang yang makan umbi pun dianggap kelas kedua karena umbi menjadi tidak populer dan tidak ekonomis karena tidak memiliki nilai jual yang tinggi.

Usaha memunculkan tanaman palawija dengan bantuan dari LSM dan KSM (Kelompok swadaya masyarakat) dimulai dengan mengajarkan kepada siswa-siswi di lingkungan sekolah dasar apa sih umbi itu, palawija itu? bagaimana cara menanamnya? dll sehingga mereka diharapkan mengerti akan potensi umbi-umbian sebagai bahan pengganti makanan pokok. Sehingga diversifikasi pangan mulai terbentuk dengan mengangap bahwa umbi pun bisa dimakan sebagai makanan pokok, dapat meningkatkan penghasilan penduduk dan mengurangi ketergantungan beras sebagai makanan pokok.

Terima kasih sudah berkunjung!

Tagged , , , ,

One thought on “Kearifan lokal masyarakat (gunung kidul), umbi lebih sip dari nasi

  1. agus Lamakarate says:

    sangat bermanfaat artikel ini, terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: