Standar sekolah negeri? Is it necessary? (edisi Hari Pendidikan Nasional)


Did you know? Hari ini kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hari dimana kita memperingati hari lahirnya guru kita, sang pendekar pendidikan, siapa lagi kalau bukan Ki Hajar Dewantara. Entah bagaimana nasib pendidikan di indonesia tanpa adanya perjuangan beliau untuk meraih pendidikan bagi siapapun, yah mungkin kita semua tidak dapat menikmati bangku sekolah seperti sekarang ini. Siapa sih yang gak kenal beliau, Ki Hajar Dewantara. Semboyan beliau yang terkenal “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” yang artinya di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, bahkan menjadi slogan Kementrian Pendidikan. Mungkin jika Ki Hajar masih hidup dan menyaksikan kemajuan pendidikan di indonesia, beliau pasti akan sangat gembira, memang pendidikan kita memang jauh lebih maju daripada semasa beliau hidup. Akan tetapi beliau pasti juga akan bersedih melihat masih banyak dari anak kita yang masih belum bisa mengenyam pendidikan yang sepantasnya. Masih banyak dari anak kita yang buta huruf, baca dan tulis pun  gak mampu. Lah pertanyaannya Kenapa mereka tidak dapat sekolah bahkan pada saat pendidikan kini yang semakin maju? Alasannya ya sederhana, Biaya pendidikan yang mahal membuat mereka tidak mampu mencicipi bangku sekolah, yang mampu aja yang bisa bersekolah, yang berduit aja yang bisa baca tulis. Dampak globalisasi yang membuat segala-galanya harus berkompetisi untuk menjadi yang lebih dalam hal apapun, semua itu pasti berakibat juga di sektor pendidikan. Globalisasi di sektor pendidikan menuntun semuanya harus maju, salah satu dampaknya adalah standarisasi sistem pendidikan. Sekolah kini mulai diberikan standarisasi, ada yang standar nasional bahkan sampai standar internasional.

Mengapa seperti itu? Kenapa harus ada standarisasi? Ok, Standarisasi dilakukan agar supaya kualitas pendidikan menjadi bermutu sesuai standar pendidikan yang ditentukan. Sekolah berlomba-lomba untuk meningkatkan standar sekolahnya, alasan lain supaya tidak kalah saing dengan sekolah lain sehingga peserta didik yang ditampung tidak berkurang dan semakin bertambah. Kurikulum pun dirubah, batas KKM (Ketuntasan Kriteria Minimal) dari suatu mata pelajaran ditinggikan, pengembangan infrastruktur sekolah, penambahan sarana dan pra sarana sekolah, semua itu dilakukan agar sesuai standar yang telah ditetapkan. Hal ini secara langsung maupun tidak langsung ya jelas menambah biaya anggaran sekolah, kenaikan baiaya anggaran sekolah langsung berdampak pada siswa. Biaya SPP pun di naikkan, segala biaya tambahan, segala macam sumbangan kembali dibebankan ke spp siswa. Lha kalau seperti itu kan juga menambah beban orang tua murid kan, dengan biaya pendidikan yang semakin mahal banyak sekali orang tua murid yang tidak mampu membiayai anaknya untuk sekolah, akibatnya ya banyak anak-anak itu menjadi putus sekolah karena alasan biaya sekolah yang mahal. Lantas apakah semua standarisasi itu perlu ya? menurut saya boleh saja standarisasi, akan tetapi kita juga harus mempertimbangkan apakah dengan cara seperti itu pendidikan yang adil dan merata masih dapat tercapai. sepertinya ini merupakan pekerjaan rumah bagi kita semua, untuk menciptakan sistem pendidikan yang bermutu dengan biaya yang murah untuk anak-anak kita kelak.

ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: