Semangat dan Inspirasi dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX bagi Generasi Penerus Bangsa


Semangat dan Inspirasi dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX bagi Generasi Penerus Bangsa

Oleh:

Rendika Ferri K*

AL HEB IK EEN UITGESPROKEN WESTERSE OPVOEDING GEHAD, TOCH BEN EN BLIJF IK IN DE ALLEREERSTE PLAATS JAVAAN.

Walaupun saya telah mengenyam pendidikan barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa.

(Cuplikan Amanat Penobatan Sri Sultan HB IX 18 Maret 1940)

Sri Sultan Hamengku Buwono IX dilahirkan di Yogyakarta, Dalem Pakuningratan kampung Sompilan Ngasem pada hari Sabtu Paing tanggal 12 April 1912 pukul 22.30 atau menurut tarikh Jawa Islam pada tanggal Rabingulakir tahun Jimakir 1842 dengan nama Dorodjatun. Ayahnya adalah Gusti Pangeran Haryo Puruboyo, Sedangkan ibunya bernama Raden Ajeng Kustilah, puteri Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Raden Ayu Adipati Anom.

Beliau diangkat menjadi putera mahkota (calon raja) pada usia 3 tahun dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibya Raja Putera Narendra ing Mataram. Sejak berusia 4 tahun Dorodjatun sudah hidup terpisah dari keluarganya, Beliau dititipkan pada keluarga Mulder seorang kebangsaan belanda untuk mendapat pendidikan dan hidup dengan kesederhanaan. Di lingkungan keluarga mulder, dorodjatun diberi nama panggilan Henkie, diambil dari nama Pangeran Hedrik (Suami Ratu Wilhelmia dari Negeri Belanda). Beliau bersekolah di taman kanak-kanak yang diasuh oleh Juffrouw Willer yang terletak di Bintaran Kidul. Kemudian pada usia 6 tahun, dorodjatun mulai bersekolah sekolah dasar Eerste Europese Lagere School. Dorodjatun melanjutkan pendidikan ke Hogere Burger School, Sekolah setingkat SMP dan SMU di Semarang dan Bandung. Pada tahun 1931, Dorodjatun bersama seorang kakaknya bernama BRM Tinggarto dipindahkan ke negeri belanda oleh ayahnya. Di Belanda, beliau berkuliah di Rijkuniversiteit Leiden, mengambil jurusan Indologie (ilmu tentang Indonesia) kemudian ekonomi.

Pada tahun 1939 disaat Perang Dunia II meletus, Saat beliau masih di bangku kuliah sebagai mahasiswa tingkat akhir, Ayahnya Hamengku Buwono VIII meminta beliau untuk kembali ke tanah akhir. Setibanya di tanah air, beliau disambut ayahnya dengan menyerahkan keris kepada beliau, Keris Joko Piturun secara simbolis menandakan bahwa si pemegang menjadi raja berikutnya. Beberapa hari kemudian, Sultan Hamengku Buwono VIII tutup usia. Pada hari Senin Pon tanggal 18 Maret 1940 atau tanggal 8 bulan Sapar tahun Jawa Dal 1871, Dorodjatun dinobatkan sebagai raja Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono, Senopati Ing Ngalogo, Abdurrahman Sayidin Panoto Gomo, Kalifatullah Ingkang Kaping IX.

Beliau merupakan sosok pemimpin yang demokratis dengan mengutamakan kepentingan rakyat di atas segala-galanya. Sebagai seorang raja yang baru, beliau selalu menekan campur tangan belanda. Kebijakan pemerintah colonial Belanda yang cenderung merugikan keraton dan merugikan kepetingan rakyatnya, peaturan-peraturan yang dibuat tidak langsung diikuti.  Seperti pada saat penandatanganan kontrak politik dengan Gubernur Yogyakarta Dr. Lucien Adams, khususnya tentang kedudukan pepatih dalem (dapat disamakan dengan Perdana Menteri). Pada waktu itu, seorang patih memiliki dualisme kesetiaan, yakni kepada Sultan dan Pemerintah kolonial Belanda.

Berbekal pendidikan yang ditempuhnya di barat, beliau memiliki pemikiran yang luas dan visioner. Pemerintah Kesultanan Yogyakarta mengalami banyak perubahan di bawah pimpinannya. Tradisi keraton yang dirasa kurang menguntungkan dihapusnya diganti dengan alternative budaya baru. Konsep politik bahwa kekuasaan Raja adalah mutlak sebagai penguasa dunia laksana dewa, sultan HB IX dengan wawasan barunya menegaskan bahwa raja bukan lagi gung binathara (besar laksana kekuasaan dewa) melainkan demokratis (dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat).

Walaupun beliau mengenyam pendidikan dari barat, akan tetapi paham nasionalisme beliau begitu kuat. Sikap ini ditunjukkan dalam pidato penobatannya, Beliau memberikan pidato  “sabda pandita ratu “ yang isinya menegaskan bahwa “Walaupun saya telah mengenyam pendidikan barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa” menjelaskan bahwa  walaupun beliau dari kecil sudah mengenyam pendidikan barat bukan berarti beliau bersifat kebarat-baratan akan tetapi sebagai orang jawa yang mencintai tanah airnya.

Wawasan kebangsaan dan nasionalisme yang kuat ditunjukkan pada sikap tegasnya mendukung Republik Indonesia. Setelah Proklamasi kemerdekaan RI beliau mengirimkan amanat kepada Presiden RI Soekarno yang menyatakan bahwa Kerajaan Yogyakarta mendukung penuh terhadap pemerintahan RI.  Beban beliau semakin berat saat kedatangan tentara inggris dan NICA di ibukota Jakarta, Presiden dan keluarga presiden pindah ke Yogyakarta, pada 4 Januari 1946. Yogyakarta kemudian difungsikan sebagai ibukota sementara. Yogyakarta diduduki oleh Belanda pada Agresi II (1948-1949), Beliau memberikan sumbangan moral maupun materiil untuk prajurit TNI, Keraton sebagai tempat perlindungan prajurit TNI. Beliau pun menjadi tokoh penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949 membantu mempertahankan Yogyakarta dari serangan Belanda.

Pada 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Upacara pengakuan  Kedaulatan dilaksanakan di Indonesia dan di negeri Belanda. Di Indonesia, Sultan Hamengku Buwono menerima pengakuan kedaulatan dari Wakil Tinggi Mahkota Belanda untuk Indonesia. Setelah pengakuan kedaulatan, ia kembali dipercaya untuk mengemban jabatan sebagai Menteri Negara dalam Kabinet Hatta (Desember 1949 -Agustus 1950), Deputy Perdana Menteri dalam Kabinet Natsir (September 1950-Maret 1951), Menteri Pertahanan dalam Kabinet Wilopo (April 1952 – Juni 1953), Menko Ekuin (Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri), serta Wakil Presiden RI (1972-1978). Sumbangsih beliau terhadap Negara Indonesia begitu besar, jasa dan berbagai jabatan tinggi yang pernah diembannya tidak membuat beliau menjadi tinggi hati. Beliau tetap hidup sederhana dan berpenampilan ala kadarnya. Beliau mengaburkan sekat yang berarti antara raja dengan rakyatnya, oleh karena itulah beliau sangat dicintai oleh rakyatnya.

Sri Sultan Hamengku Buwana IX, raja yang sederhana dan amat dicintai rakyatnya, meninggal dunia di Washington D.C pada 2 Oktober 1988. Jenazahnya dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-raja di Imogiri Yogyakarta. Atas jasa-jasa dan sumbangsih beliau kepada Negara yang begitu besar, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 053/TK/Tahun 1990, tanggal 30 Juli 1990. Kepergian Sultan HB IX menjadi kesedihan semua orang. Perjalanan jenazah almarhum dari Keraton menuju Astana Saptarenggana di Imogiri dengan kereta Kyahi Rata Pralaya sering terhenti oleh massa yang membudak di sepanjang jalan.

Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa. Izinkanlah saya mengakhiri pidato saya ini dengan berjanji, semoga saya dapat bekerja untuk memuhi kepentingan nusa dan bangsa, sebatas pengetahuan dan kemampuan yang ada pada saya.

Sri Sultan Hamengku Buwana  IX

Kepergian Ngarsa Dalem menjadi kesedihan oleh rakyatnya, akan tetapi semangat perjuangan beliau untuk kedaulatan Negara tercinta tetap membara di jiwa generasi muda. Jiwa nasionalisme, wawasan kebangsaan, kecintaan terhadap tanah air, rasa kecintaan terhadap rakyatnya menjadi teladan bagi kami generasi muda tanah air untuk menjadi pemimpin masa depan bagi nusa dan bangsa.

*Rendika Ferri K, Mahasiswa Ilmu Tanah, Jurusan Tanah,

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.

2009

Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

2 thoughts on “Semangat dan Inspirasi dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX bagi Generasi Penerus Bangsa

  1. Edi Prasetyo says:

    Terima kasih atas partisipasi mengikuti kontes blog. Lanjutkan terus untuk berbagi inspirasi sesama anak bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: