Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K), Pembukaan 100.000 Ha Lahan Pertanian, Harapan dan Kenyataan?


Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K), Pembukaan 100.000 Ha Lahan Pertanian, Harapan dan Kenyataan.

Oleh:

Rendika Ferri Kurniawan*

Pertanian merupakan salah satu aspek kehidupan manusia yang sangat vital terutama berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok manusia yaitu sandang, pangan dan papan. Dalam pelaksanaan suatu kegiatan pertanian dibutuhkan sumber daya (resources),  baik sumber daya manusia, alam maupun lahan. Salah satu sumber daya yang paling dibutuhkan untuk pertanian adalah sumber daya lahan. Sumber daya lahan memegang peranan penting karena diperlukan dalam setiap aktivitas hidup manusia, terutama pada sektor pertanian.

 

Sumber daya lahan merupakan sumber daya alam yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia, seperti untuk pertanian, daerah permukiman, sarana transportasi jalan,kawasan konservasi alam, daerah perindustrian dll. Menurut Sitorus (2001), Sumber daya lahan didefinisikan sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim, relief, tanah, air dan vegetasi serta benda yang ada diatasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. Sumber daya lahan juga memiliki hubungan yang dinamis terhadap organisme dengan lingkungan di atas sumber daya lahan. Salah satu sektor yang membutuhkan sumber daya lahan (land resources) adalah sektor pertanian karena tanaman membutuhkan habitat untuk tumbuh dan berkembang. Terdapat tiga aspek social dari pertanian yaitu agriculture as an art, agriculture as a business, agriculture as a science. Agriculture as a business (Pertanian sebagai bisnis) lebih menekankan kepada hasil/produktivitas pertanian agar supaya mendapat profit dari suatu kegiatan pertanian, hal ini tentunya akan mengarah kepada ketersediaan sumber daya baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Sumber daya lahan yang termasuk ke dalam sumber daya alam diperlukan sebagai indicator dari produktivitas hasil pertanian.

Kementerian BUMN saat ini tengah mengembangkan Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) dengan melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana untuk mencetak lahan baru seluas 100.000 hektar mulai tahun ini hingga 2014 guna menggenjot produksi beras, guna mencetak lahan baru tersebut dibutuhkan dana sebesar Rp9,5 triliun. Saat ini banyak lahan pertanian tidak dikelola dengan baik dan ditelantarkan, sehingga diperlukan rekondisi dari lahan pertanian yang tidak terurus juga perluasan (ekstensifikasi) lahan pertanian sehingga produktivitas menjadi lebih tinggi, minimal di atas rerata produktivitas nasional. Akan tetapi Program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) dibutuhkan sumber dana yang besar juga dibutuhkan dukungan baik dari pemerintah maupun masyarakat. Melalui pelaksanaan program ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian, membuka lapangan kerja baru untuk tenaga kerja pertanian, dan menekan laju alih fungsi lahan. Berikut merupakan Anggaran pertanian dari APBN 2007-2012.

Gambar 1. Anggaran Pertanian 2007-2012

Dana untuk Program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) yang berjumlah 9,5 T dirasa sudah cukup terpenuhi dengan anggaran pertanian pada tahun 2012 yang berjumlah 53,897 T. Dengan dukungan penuh dari pemerintah semestinya program ini dapat berjalan lancar sampai tahun 2014. Seharusnya lahan yang dibuka pun bisa lebih dari 100.000 hektar, akan tetapi yang menjadi pokok permasalahan adalah ada tidaknya sumber daya lahan yang tersedia. Masalah lain adalah lahan-lahan pertanian yang terbengkalai, juga masalah alih fungsi lahan (konversi lahan). Sumber daya lahan yang tersedia biasanya kurang produktif dan komoditas pertanian yang ditanami pun terbatas. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Widjanarko (2006) secara nasional, luas lahan sawah kurang lebih 7,8 juta Ha, dimana 4,2 juta Ha berupa sawah irigasi dan sisanya 3,6 juta Ha berupa sawan nonirigasi. Selama Pelita VI tidak kurang dari 61.000 Ha lahan sawah telah berubah menjadi penggunaan lahan non pertanian. Luas lahan sawah tersebut telah beralih fungsi menjadi perumahan (30%), industry (65%), dan sisanya (5%) untuk penggunaan tanah lain.

Penelitian yang dilakukan Irawan (2005) menunjukkan bahwa laju alih fungsi lahan di luar Jawa (132 ribu Ha per tahun) ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Pulau Jawa (56 ribu ha per tahun). Sebesar 58,68 persen alih fungsi lahan sawah tersebut ditujukan untuk kegiatan nonpertanian dan sisanya untuk kegiatan bukan sawah. Alih fungsi lahan sebagian besar untuk kegiatan pembangunan perumahan dan sarana publik. Menanggapi hal tersebut, alih fungsi lahan pertanian merupakan dampak dari pembangunan-pembangunan dimulai pada masa orde baru sampai sekarang. Faktor-faktor lain yaitu tekanan ekonomi pada saat krisis ekonomi, hal tersebut menyebabkan banyak petani menjual asetnya berupa sawah untuk memenuhi kebutuhan hidup petani dan keluarganya.

Dikutip dari BeritaSatu.com Hasil intensifikasi lahan melalui program GP3K sudah menunjukkan hasil yang sangat baik, dimana produktivitas lahan sawah yang dikelola melalui program GP3K diatas produktivitas nasional. Saat ini produktivitas lahan sawah dengan menggunakan program GP3K mencapai 6,54 ton per ha gabah kering giling (GKG), diatas produktivitas rata-rata nasional sebesar 5,1 ton per ha. Pada tahun 2012 sendiri BUMN akan membuka lahan sawah baru seluas 100 ribu ha, kemudian pada 2013 sebanyak 300 ribu ha, pada 2014 sebanyak 600 ribu ha, sehingga total lahan sawah baru yang dapat dicetak BUMN pada 2014 nantinya diharapkan mencapai 1 juta ha lahan. Dengan demikian diharapkan pada 2014, BUMN dapat memproduksi 6,1 juta ton GKG.”

Program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) diharapkan menekan laju konversi lahan pertanian dengan usaha ekstensifikasi lahan pertanian menjadi lahan persawahan. Dampak positif adanya program ini adalah produksi pangan terutama beras menjadi naik, sehingga jumlah impor dapat dikurangi dan memperbesar jumlah ekspor. Sehingga status ketahanan pangan di indonesia menjadi kedaulatan pangan.Dukungan dari pemerintah dan masyarakat dibutuhkan sepenuhnya supaya program ini berjalan dengan baik, sehingga menghasilkan dampak positif pada sektor pertanian di negara kita.

*Rendika Ferri Kurniawan, Mahasiswa Jurusan Tanah, Program Studi Ilmu Tanah, Universitas Gadjah Mada. Blogger dan penulis di kuliahnyok.wordpress.com.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012. BeritaSatu.Com – Ekonomi – Cetak 100.00 Hektar Sawah, BUMN Butuh Rp9,5 T

<http://www.beritasatu.com/mobile/ekonomi/30537-cetak-10000-hektar-sawah-bumn-butuh-rp9-5-t.html&gt;

Tagged , , , , , ,

4 thoughts on “Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K), Pembukaan 100.000 Ha Lahan Pertanian, Harapan dan Kenyataan?

  1. wah sudah keduluan mas Ferri. nice post gan🙂

  2. Leman says:

    minta ijin share mas bro..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: