BBM naik lagi ya?


Isu kenaikan harga BBM yg sekarang menjadi kenyataan mulai berpengaruh terhadap harga kebutuhan poko lainnya. Subsidi BBM mulai dicabut, harga bbm mulai naik hingga 40% . Premium bersubsidi yang diberikan dirasa kurang tepat sasaran. BBM bersubsidi yang harusnya digunakan oleh orang-orang kalangan  bawah pun hanya digunakan oleh orang-orang berduit (kendaraan aja gak punya, boro2 mau beli BBM). Kenaikan harga BBM pun berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat (kayak lagunya rhoma “yang kaya makin kaya, yang miskin tambah miskin”). Seharusnya negara kita yang terkenal sebagai negara agraris, negara yang kaya akan SDA mulai memikirkan pengganti bahan bakar fosil yang tak terbaharui ini dengan bahan bakar yang terbaharui dan melimpah sumbernya juga berkualitas sama dengan BBM. Selain dapat diperbaharui, Bahan bakar alami seharusnya ramah lingkungan, residu yang dihasilkan lebih sedikit. Bahan bakar alami (Biofuel) seharusnya lebih murah dan mudah didapat dan diaplikasikan. Dukungan dari yang punya kuasa (pemerintah) diperlukan untuk menjalankan mission imposibble but possible ini, yang pertama-tama sektor yang haru dipacu untuk maju ya sektor Agrokompleks (pertanian, teknologi pangan dll yang mengelola SDA kita menjadi lebih berguna dan punya nilai ekonomis) ya karena memang dari situlah SDA kita dapat untuk digunakan. Sumber-sumber SDA seperti spesies tanaman yang dapat menghasilkan minyak berkualitas  kemudian dikembangkan dan dimuliakan agar kualitas Biofuel yang dihasilkan berkualitas sama dengan BBM pada umumnya. Akan tetapi dukungan terhadap sektor vital ini pun hanya ala kadarnya sebagai formalitas, tak pernah ada bentuk nyata (hanya itung-itungan gak jelas, serta diplomasi yang bertele-tele). Pertanian pun mulai tersingkir dengan adanya perluasan sektor perindustrian, alih fungsi lahan menjadi kawasan perindustrian, pembukaan hutan menyebabkan SDA yang dimiliki pun mulai berkurang. akibat lain juga mempersempit lahan pertanian, otomatis hal ini menyebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan pangan dengan jumlah pangan yang ada. yang punya kuasa pun cuma ngomong “Kalo bisa impor ya kenapa nanem sendiri to, toh saya nanti juga kecipratan duitnya”.

“yang kaya makin kaya, yang miskin tambah miskin”  Rhoma Irama

Tagged , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: