KADAR LENGAS TANAH


ACARA I

KADAR LENGAS TANAH

ABSTRAKSI

Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa, tanggal 2 Maret 2010 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui kadar lengas tanah. Kadar lengas tanah adalah kandungan air yang terdapat dalam pori tanah. Didalam tanah, air berada di dalam ruang pori diantara padatan tanah. Jika tanah dalam keadaan jenuh air, semua ruang pori tanah terisi oleh air. Selanjutnya jika tanah dibiarkan mengalami pengeringan, sebagian ruang pori akan terisi udara dan sebagian lainnya terisi air. Dalam keadaan ini tanah dikatakan tidak jenuh. Faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan lengas dalam tanah antara lain, anasir iklim, kandungan bahan organik dan lempung tanah, relief, dan bahan penutup tanah. Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah metode gravimetri dengan mengacu pada penimbangan dan analisis tanah alfisol. Hasil analisis gravimetri pada tanah Alfisol menunjukkan bahwa kadar lengas tanah Alfisol pada pemanasan dengan suhu 105̊ -110̊ C didapatkan untuk tanah kering udara gumpalan/ bongkahan sebesar 9,29 % , tanah kering Ф 2 mm (tanah halus) sebesar 8,71%. Dengan demikian kadar lengas terbesar yaitu pada tanah gumpalan/ bongkahan.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tanah sangat dibutuhkan dalam kehidupan sebab tanah dapat dimanfaatkan oleh tumbuh-tumbuhan untuk pertumbuhan. Sedangkan manusia sangat membutuhkan tanaman baik dalam pemenuhan makanan, pakaian dan lain-lain. Tanah merupakan hasil transformasi zat-zat mineral dan organik di muka daratan bumi yang terbentuk dibawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang bekerja dalam masa yang sangat panjang. Komponen tanah (mineral, organik, air, dan udara) tersusun antara satu dengan yyang lainnya membentuk tubuh tanah. Kenampakan dan sifat-sifat tanah didaerah tertentu berbeda dengan daerah lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh proses gabungan anasir alami yaitu bahan induk, iklim, topografi, dan organisme yang bekerja pada waktu tertentu. Dengan kata lain, oleh karena intensitas faktor-faktor pembentuk tanah daerah satu dengan yang lain berbeda maka tanah yang terbentuk juga berbeda.

Untuk mempelajari tanah telah dilakukan melalui beberapa disiplin ilmu yaitu ilmu kimia tanah, fisika tanah, mineralogi tanah, klasifikasi tanah, mikrobiologi tanah, pedologi dan sebagainya. Oleh karena memiliki fungsi yang multidimensional sering timbul masalah yang berkaitan dengan tanah yaitu ketersediaan tanah terbatas sedangkan penggunaan semakin luas sehinnga terjadi penurunan kualitas tanah. Karakteristik tanah yang utama bahwa dalam mempelajari masalah tanah dibatasi oleh satuan pewakil pedosfer dalam bentuk pencuplikan dan analisis tanah. Analisis tanah dapat berupa pengukuran secara kimiawi, fisika dan biologi yang bertujuan untuk memahami sifat tanah dan kesesuaiannya untuk pertumbuhan tanaman.

B.TUJUAN

Mengetahui kadar lengas lering udara beberapa jenis tanah terutama Alfisol yaitu dalam bentuk gumpalan/bongkahan, tanah kering udara dengan diameter 0,5 mm dan 2 mm.

II.TINJAUN PUSTAKA

Tanah adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak di permukaan sampai kedalaman tertentu yang dipengaruhi oleh faktor genetis lingkungan, yakni bahan induk, iklim,organisme hidup (mikroorganisme dan makroorganisme),topografi, dan waktu yang sangat panjang. Tanah dapat dibedakan dari ciri-ciri bahan induk asalnya baik secara fisik, kimia, biologi, maupun morfologinya.(Rodriquez-Iturbe and Amilcar, 2004)

Tanah memiliki kualitas yang berbeda disetiap wilayah. Pada tahun 1994 Soil Science Society of America (SSSA) telah mendefinisikan kualitas tanah sebagai kemampuan tanah untuk menampilkan fungsi-fungsinya dalam penggunaan lahan atau ekosistem untuk menopang produktivitas biologis, mempertahankan kualitas lingkungan, dan meningkatkan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan (Agehara and Wameke,2005).

Kadar lengas tanah sering disebut sebagai kandungan air(moisture) yang terdapat dalam pori tanah. Satuan untuk menyatakan kadar lengas tanah dapat berupa persen berat atau persen volume. Berkaitan dengan istilah air dalam tanah, secara umum dikenal 3 jenis, yaitu (a) lengas tanah (soil moisture) adalah air dalam bentuk campuran gas (uap air) dan cairan; (b) air tanah(soil water) yaitu air dalam bentuk cair dalam tanah, sampai lapisan kedap air, (c) air tanah dalam (ground water) yaitu lapisan air tanah kontinu yang berada ditanah bagian dalam (Handayani, 2009).

Di Indonesia banyak tanah marginal yang berkandungan pasir tinggi seperti tanah vulkan berpasir kasar dan tanah berpasir pantai. Tanah berpasir seperti itu memiliki struktur yang jelek, berbutir tunggal lepas, berat volumenya tinggi, serta kemampuan menyerap dan menyimpan air rendah sehingga kurang mendukung dalam usaha bercocok tanam. Disamping itu, tanah jenis ini peka terhadap pelindian unsur-unsur hara dan peka terhadap erosi air maupun angin. Dalam kaitannya dengan daya menyimpan air, tanah berpasir memiliki daya pengikatan terhadap lengas tanah yang relatif kecil karena permukaan kontak antartanah pasiran ini didominasi oleh pori-pori mikro. Oleh karena itu, air yang jatuh ke tanah jenis ini akan segera mengalami perlokasi dalam air kapiler akan mudah lepas karen evaporasi (Mukhid, 2007).

Beberapa faktor yang memepengaruhi kandungan lengas dalam tanah antara lain anasir iklim, kandungan bahan organik, fraksi lempung tanah, topografi, dan adanya bahan penutup tanah baik organik maupun anorganik (Walker and Paul, 2002).

Bahan organik dalam tanah dapat didefinisikan sebagai sisa-sisa tanaman dan hewan di dalam tanah pada berbagai pelapukan dan terdir dari organisme yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Didalam tanah, bahan organik bisa berfungsi dan memperbaiki sifat kimia, fisika, biologi tanah sehingga ada sebagian ahli menyatakan bahwa bahan organik di dalam tanah memiliki fungsi yang tak tergantikan (Sutanto, 2005).

Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi mempunyai kapasitas penyangga tyang rendah apabila basah. Kemampuan tanah untuk menyimpan air salah satunya air hujan menentukan juga spesies apa yang tumbuh. Kadar lengas merupakan salah satu sifat fisika tanah untuk mengetahui kemampuan penyerapan air dan ketersediaan hara pada setiap jenis tanaman (Anonim, 2007).

III. METODOLOGI

Praktikum acara I yang berjuduk Kadar Lengas Tanah, dilaksanakan pada tanggal 2010 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadajah Mada. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah aquades dan lima jenis tanah antara lain adalah Entisol, Alfisol, Ultisol, Rendzina dan Vertisol. Masing-masing tanah yang digunakan yaitu diameter o,5 mm; 2,0 mm; dan tanah gumpalan.

Pertama, enam buah botol timbang diberi label kemudian keenam botol kosong tertutup ditimbang misalnya ( a gram). Setelah itu, botol diisi tanah 2/3 volume botol dengan tanah berdiameter 0,5 mm; 2,0 mm; dan tanah gumpalan. Dari setiap jenis tanah dibuat masing-masing dua ulangan. Lalu botol timbang dan tanah debgan tutupnya ditimbang (misalnya b gram) kemudian botol tersebut dioven dengan tutp sedikit terbuka pada suhu 105̊-110̊ c selama minimal 4 jam.

Kemudian botol dikeluarkan dari oven kemudia ditutup serapat mungkin dan dibiarkan dingin di dalam desikator selama 15 menit. Botol dari desikator dalam keadaan tertutup rapat ditimbang lagi (misal c gram). Terakhir botol timbang dibersihkan dan dikembalikan ke tempat semula. Kadar lengas dari setiap jenis tanah dihitung dengan rumus perhitungan yaitu:

Kadar Lengas× 100 %

Keterangan:     b-c adalah berat lengas tanah

c-a adalah berat tanah kering mutlak

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Jenis tanah Kadar lengas (%) pada tiap diameter
2,0 mm 0,5 mm Gumpalan
Entisol 1,4565 1,4260 1,9695
Alfisol 8,24 8,71 9,29
Ultisol 13,125 16,98 12,45
Rendzina 12,885 12,52 21,42
Vertisol 9,835 9,880 10,061

Contoh Perhitungan

  • Alfisol

KL × 100%

  1. Ф 0.5 mm

KL1 × 100%                                Klrerata=

= 8,35 %                                                                     = 8.24%

KL2 × 100%

= 8,13 %

Kadar lengas tanah adalah kandungan uap air yang terdapat dalam pori-pori tanah. Dalam percobaan ini tanah yang digunakan adalah tanah Entisol, Alfisol, Ultisol, Rendzina, dan Vertisol yang masing-masing berdiameter 2,0 mm; 0,5 mm; dan gumpalan.

Dari hasil perhitungan didapat kadar lengas tanah Entisol yang berdiameter 2,oo mm adalah %, diameter 0,5 mm adalah %, dan gumpalan %. Untuk tanah Alfisol yang berdiameter 2,oo mm adalah %, diameter 0,5 mm adalah %, dan gumpalan %. Sedangkan untuk tanah Ultisol yang berdiameter 2,oo mm adalah %, diameter 0,5 mm adalah %, dan gumpalan %. Untuk tanah Rendzina yang berdiameter 2,oo mm adalah %, diameter 0,5 mm adalah %, dan gumpalan %. Sedangkan Kadar lengas dari Vertisol yang berdiameter 2,oo mm adalah %, diameter 0,5 mm adalah %, dan gumpalan %. Sehingga urutan kandungan lengas pada tanah dari yang terbesar hingga yang terkecil adalah >>>>>.

Tanah dipanaskan pada suhu 110̊ c sehingga bobot sebelum dan sesudah akan berubah. Hal ini disebabkan pada suhu 110̊ c terjadi reaksi endotermik yang menyebabkan hilangnya molekul air yang disebut dehiroksilasi. Kehilangan air dan gugus hiroksil menyebabkan hilangnya bobot mineral.

Karakteristik kelima jenis tanah yang digunakan dalam percobaan adalah sebagai berikut:

  1. Tanah Entisol

Entisol bertekstur pasiran dengan pasiran dengan porositas sifat fisik tanah entisol yaitu permeabilitas rendah sehingga kurang menangkap air. Entisol umumnya mempunyai bertekstur pasir dengan diameter 0,05 mm-2,0 mm. Kepadatan tanah emtisol ditunjukkan dengan porositas total dari suatu material, dimana pori total terdiri dari pori mikro dan makro. Semakin banyak pori makro maka tanah tersebut akan mempunyai kapasitas memegang air yang besar. Tanah mempunyai tekstur halus punya porositas total besar dan jumlah pori makro besar sehingga kapasitas memegang air juga besar.

  1. Tanah Alfisol

Alfisol pada umumnya berkembang dari batu kapur, olivin, tufa dan lahar. Bentuk wilayah beragan dari bergelombang hingga tertoreh, tekstur berkisar antara sedang dan halus, drainasenya baik. Reaksi tanah berkisar antara agak masam hingga netral, kapasitas tukar kation dan basanya beragam dari rendah hingga tinggi, bahan organik pada umumnya sedang hingga rendah. Jeluk tanah dangkal hingga dalam, Mempunyai sifat kimia dan fisika relatif baik. Alfisol cukup tahan dengan erosi. Alfisol adalah tanah relatif muda, masih banyak mengandung mineral primer yang mudah lapuk, mineral liat kristalin dan kaya akan unsur hara. Namun demikian, bahay erosi dapat terjadi mengingat angka kadar lengas tanah ini kecil dan tanah ini banyak didaerah yang berlereng. Bahaya erosi juga dapat menyebabkan horison argilik muncul di permukaan dan tanah menjadi kurang baik. Air perlokasi juga tidak begitu banyak akibat pengendapan argillan. Hal ini menghambat air meresap lebih jauh ke dalam tanah.

  1. Tanah Ultisol

Biasanya jenis tanah ini lembab. Tanah dengan horison argilik dan kandungan basa rendah sehingga bersifat masam. Tanah Ultisol ini juga memiliki kandungan lempung( tidak sebanyak vertisol dan rendzina). Pada tanah ini terjadi pembentukan plinthite dan fragipan sehingga drainase mengakibatkan gerakan air dalam tanah terhambat. Angka Kadar lengas Ultisol juga kecil, bahkan lebih kecil daripada Alfisol. Artinya tanah Alfisol memiliki kadar lengas yang lebih buruk daripada Alfisol.

  1. Tanah Rendzina

Rendzina merupakan tanah dengan epipedon millik. Tanah Rendzina adalah jenis tanah Mollisol yang merupakan tanah yang subur dengan hanya sedikit pencucian sehingga kejenuhan basa tinggi. Sifat fisik tanah ini sangat baik karena tidak keras walaupun dalam keadaan kering sehingga mudah diolah. Tanah Rendzina mempunyai epipedon dengan mollik yang terbentuk dari hasil perombakan bahan organik dengan bantuan mikroorganisme tanah. Horison tanah ini adalah horison A. Perlokasi tanah Rendzina baik, namun apabila tanah ini terlalu kering akan peka terhadap erosi. Hal ini terjadi karena kandungan bahan organik yang banyak. Infiltrasi menjadi sangat kuat dan mudah mengalami kekeringan.

  1. Tanah Vertisol

Vertisol merupakan tanah yang memiliki sifat khusus yakni mempunyai sifat vertik, hal ini disebabkan terdapat mineral liat tipe 2:1 yang relatif banyak. Karena itu dapat mengkerut jika kering dan mengembang jika jenuh air. Vertisol merupakan tanah lempung berat (lempung >30%), kelap kali bewarna gelap, di daerah dataran luas yang mempunyai musim kering tegas. Selain itu tanah vertisol juga mempunyai ciri lain yaitu timbulan gilgai atau cermin sesar pada suatu jeluk yang tidak terlalu dalam. Lempung dalam vertisol merupakan lempung montmomilonit yang mengembang dan mengkerut. Kadar bahan organik dalam Vertisol acap kali tidak lebih dari 0,5 atau 1 %. Tanah ini sangat rentan terhadap erosi air. Vertisol memiliki pengikatan air yang tinggi pada saat musiom hujan, namun sangat buruk pada musim kering.

Dari percobaan, dapat dilihat bahwa kadar lengas maksimum terdapat pada tanah Ultisol (diameter 0,5 mm) yaitu 16,98% dan kadar lengas minimum jenis tanah Entisol (diameter 0,5 mm) yaitu 1,4260%.

Manfaat mengetahui kandungan lengas tanah dalam bidang pertanian adalah lengas berperan sangat penting dalam proses genesa tanah. Kelangsungan hidup tanaman dan renik tanah. Setiap reaksi kimia dan fisika yang terjadi di dalam tanah hampir selalu melibatkan air sebagai pelarut garam-garam mineral. Senyawa asam dan basa, serta ion-ion dan gugus-gugus organik maupun anorganik. Manfaat lain dari perhitungan kadar lengas ini dalam bidang pertanian antara lain, pengetahuan kadar lengas tanah digunakan untuk menduga kebutuhan air untuk persawahan, menduga kebutuhan air selama proses irigasi dan mengetahui kemampuan suatu jenis tanah mengenai daya simpan lengas atau airnya. Hal ini juga digunakan dalam perhitungan nilai perbandingan dispersi(NPD). Selain itu digunakan untuk mengetahui daya tahan tanah terhadap erosi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar lengas adalah pengaruh temperatur terhadap sifat-sifat tanah lebih kecil dibandingkan curah hujan (lengas), karena sebagian energi digunakan untuk evaporasi dan transpirasi. Jadi pengaruh temperatur berpengaruh terhadap kegiatan perombakan bahan organik serta laju reaksi pelapukan kimia. Iklim merupakan faktor yang mempengaruhi kadar lengas tanah. Curah hujan dan temperatur merupakan anasir iklim yang berpengaruh pada kandungan kadar lengas tanah. Faktor topografi berpengaruh pada kandungan lengas tanah dalam mempercepat kehilangan lengas atau sebaliknya, yaitu mengawetkannya.

Dalam percobaan kadar lengas ini menggunakan metode gravimetris, karena metode ini dipraktekkan. Selain itu biayanya juga murah dan waktunya yang digunakan relatif cepat, sebab gravimetris mempunyai prinsip kerja yang sederhana, yaitu pengukuran selisih berat lenags antara sebelum dan sesudah dikeringkan. Berat tanah sebelum dikeringkan akan lebih besar daripada sesudah dikeringkan.

V.KESIMPULAN

  • Dari percobaan ini diperoleh uruten kadar lengas pada berbagai jenis tanah dalam berbagai variasi diameter adalah sebagai berikut:
  1. Tanah berdiameter 0,5 mm urutan kadar lengasnya adalah Ultisol 13,125%> Rendzina 12,885% > Vertisol 9,835% >Alfisol 8,24% > Entisol 1,4565%.
  2. Tanah berdiameter 2,0 mm urutan kadar lengasnya adalah Ultisol 16,98% >

Rendzina 12,52% > Vertisol 9,880% > Alfisol 8,71% > Entisol 1,4260%.

  1. Tanah bongkahan urutan kadar lengasnya adalah Ultisol 12,45% > Rendzina 11,42% > Vertisol 10,061% > Alfisol 9,29% > Entisol 1,9695%.
  • Manfaat kadar lengas dalam bidang pertanian anatara lain pengetahuan kadar lengas tanah digunakan untuk mneduga kebutuhan air untuk persawahan, menduga kebutuhan air selama proses irirgasi dan mengetahui kemampuan suatu jenis tanah mengenai daya simpan lengas atau airnya.
  • Metode yang digunakan adalah metode gravimetris karena metode ini murah dan cepat.

DAFTAR PUSTAKA

Agehara, S and, D.D. Warncke.2005. Soil moisture and temperature effect on         nitrogen release from organic nitrogen source. Soil Science Society of       America Journal 69.

Anonim.2007. Kadar Lengas Tanah.http://www.misouryuniversity.com. Diakses               pada  tanggal 7 Maret 2010.

Handayani, S. 2009. Panduan Praktikum dan Bahan Asistensi Dasar-dasar Ilmu    Tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.                        Yogyakarta.

Mukhfid, S.2007. Pengaruh Pemberian Lapisan Lempung terhadap Peningkatan Lengas Tanah pada Tanah Berpasir.http://www.iptek.net . Diakses pada            tanggal 7 Maret 2010.

Rodriquez-Iturbe, I and, P. Amikar. 2004. Ecohydrology of water-controlled          ecosystem: Soil Moisture and Plant Dynamics. Cambridge University Press. L            London.

Sutanto, R. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Kanisius. Yogyakarta.

Walker, J.P and ,R.H. Paul.2002. Evaluation of the Ohmmapper instrument for soil            measurement. Soil Science Society of America . Journal, Vol 66.

Winarso, S.2005. Kesuburan Tanah: Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah. Cava Media. Yogyakarta.

LAMPIRAN

  1. A. Tabel Pengamatan
Jenis Tanah DiameterTanah(mm) Ulangan Berat ( gram) KL(%) RerataKL (%)
A B C
Entisol 0,5 1 25,80 43,80 43,54 1,466 1,4565
2 44,48 59,20 58,99 1,447
2,0 1 32,28 49,54 49,30 1,410 1,4720
2 36,62 52,10 51,88 1,442
CT 1 20,07 37,89 37,54 2,003 1,9695
2 46,57 61,31 61,03 1,936
Rendzina 0,5 1 26,094 35,119 34,078 13,04 12,885
2 18,448 29,554 28,300 12,73
2,0 1 25,443 38,444 37,016 12,34 12,52
2 18,234 27,390 26,368 12,70
CT 1 44,314 57,744 56,391 11,20 11,42
2 32,253 44,727 43,426 11,64
Ultisol 0,5 1` 25,48 36,26 35,01 13,11 13,125
2 31,69 46,58 44,85 13,14
2,0 1 46,23 59,61 57,70 16,66 16,98
2 26,50 37,42 35,81 17,31
CT 1 36,62 47,07 45,90 12,6 12,45
2 43,59 53,35 52,28 12,3
Alfisol 0,5 1 46,05 62,27 61,02 8,35 8,24
2 46,80 63,41 62,16 8,13
2,0 1 46,98 61,33 60,12 9,20 8,71
2 45,92 61,85 60,64 8,22
CT 1 46,62 55,27 54,55 9,08 9,29
2 45,98 55,20 54,40 9,50
Vertisol 0,5 1 46,226 63,875 62,316 9,695 9,835
2 46,115 63,506 61,952 9,976
2,0 1 42,305 59,430 57,961 9,382 9,880
2 46,266 62,845 61,286 10,379
CT 1 46,941 64,971 63,322 10,006 10,061
2 20,527 32,969 31,832 10,057
  1. Perhitungan Kadar Lengas Tanah
KL × 100%

Keterangan:

  • a : berat botol
  • b : berat botol+tanah
  • c : berat botol+tanah+oven
  • (b-c) : berat lengas tanah
  • (c-b) : berat tanah kering mutlak
  1. Entisol

a.Ф 0,5 mm

  • Ulangan 1

KL × 100% = 1,466 %

  • Ulangan 2

KL × 100% = 1,477%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 1,4565%

b.Ф 2,0 mm

  • Ulangan 1

KL × 100% = 1,410 %

  • Ulangan 2

KL × 100% = 1,4260%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  =1,4260%

c. CT bongkah

  • Ulangan 1

KL × 100% = 2,003 %

  • Ulangan 2

KL1 × 100% = 1,936%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 1,9695%

  1. Rendzina

a.Ф 0,5 mm

  • Ulangan 1

KL × 100% = 13,04 %

  • Ulangan 2

KL1 × 100% = 12,73%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 12,885%

b.Ф 2,0 mm

  • Ulangan 1

KL × 100% = 12,34 %

  • Ulangan 2

KL1 × 100% = 12,70%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 12,52%

c. CT bongkah

  • Ulangan 1

KL × 100% = 11,20 %

  • Ulangan 2

KL1 × 100% = 11,64%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 11,42%

  1. Ultisol

a.Ф 0,5 mm

  • Ulangan 1

KL × 100% = 13,11 %

  • Ulangan 2

KL1 × 100% = 13,14%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 13,125%

b.Ф 2,0 mm

  • Ulangan 1

KL × 100% = 16,66 %

  • Ulangan 2

KL1 × 100% = 17,31%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 16,98%

c. CT bongkah

  • Ulangan 1

KL × 100% = 12,6 %

  • Ulangan 2

KL1 × 100% = 12,3%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 12,45%

  1. Alfisol

a.Ф 0,5 mm

  • Ulangan 1

KL × 100% = 1,466 %

  • Ulangan 2

KL1 × 100% = 8,13%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 8,24%

b.Ф 2,0 mm

  • Ulangan 1

KL × 100% = 9,20 %

  • Ulangan 2

KL1 × 100% = 8,22%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 8,71%

c. CT bongkah

  • Ulangan 1

KL × 100% = 9,08 %

  • Ulangan 2

KL1 × 100% = 9,50%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 9,29%

  1. Vertisol

a.Ф 0,5 mm

  • Ulangan 1

KL × 100% = 9,695 %

  • Ulangan 2

KL1 × 100% = 9,976%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 9,835%

b.Ф 2,0 mm

  • Ulangan 1

KL × 100% = 9,382 %

  • Ulangan 2

KL1 × 100% = 10,379%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 9,880%

c. CT bongkah

  • Ulangan 1

KL × 100% = 10,066 %

  • Ulangan 2

KL1 × 100% = 10,057%

  • Rata-rata KL

Klrerata=  = 10,061%

10 thoughts on “KADAR LENGAS TANAH

  1. sangat bermanfaat bagi pembaca khususnya saya sendiri
    terimah kasih

  2. siti faimah says:

    kenapa harus pada suhu 105 drjat celcius?

  3. siti faimah says:

    kenapa pada percobaan harus dimasukkan ke dalam oven yg bersuhu 105 derajat?
    jika suhu antara 70-90 drjat celcius apa yg terjadi?

  4. itu emang udah ada di metodologi mbk, kalo saya kurang tau.

  5. dwi says:

    mantabbb gan!!!!

  6. keno nggo pembahasan survei
    wkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: